Sidang Kasus Daycare, Anak Trauma Air hingga Perilaku Tak Wajar

Kota Jogja31 Dilihat
banner 468x60

JOGJA, JANASVARA.COM – Sidang lanjutan kasus dugaan kekerasan anak di Daycare Little Aresha mengungkap fakta terkait perubahan fisik dan perilaku ekstrem para balita setelah dititipkan di fasilitas pengasuhan anak tersebut. Hal itu diungkapkan orang tua korban yang dihadirkan menjadi saksi.

Sidang yang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Jogja pada Senin (31/8/2026) dipimpin olh Ketua Majelis Hakim Sunaryanto. Dalam sidang tersebut Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan sembilan orang tua korban sebagai saksi.

banner 336x280

Saksi pertama, WM, membeberkan bahwa anaknya mengalami perubahan perilaku negatif yang signifikan pascamasuk ke Daycare Little Aresha. Anaknya mendadak ketakutan ekstrem terhadap air. Anaknya histeris saat dimandikan atau dikramasi. Selain itu, anaknya juga menunjukkan perilaku aneh saat bermain.

“Ananda [anaknya] takut kamar mandi dan takut melihat air berdebit banyak. Ketika mau dikramasi dia tidak mau, jadi hal-hal berbau air pasti rewel dibandingkan sebelum masuk Little Aresha. Di tempat baru anak seusianya senang bermain di kolam air, tapi anak saya justru sangat takut sampai mundur-mundur,” ungkapnya di hadapan Majelis Hakim.

“Kemudian ketika menemukan gendongan yang agak panjang, itu sering kakinya selonjoran sambil diikatkan dan dikalungkan ke leher, padahal kami tidak melatihkan apapun,” tambahnya.
Selain perubahan mental, WM membeberkan kondisi fisik anaknya yang sering mengalami lebam berhari-hari, bintik merah, hingga mata sembab yang tak direspons saat dikonfirmasi via pesan singkat WhatsApp ke admin Little Aresha.

Anak WM juga sering mengalami penurunan daya tahan tubuh hingga memicu infeksi telinga. “Sebelumnya jarang sakit, tapi setelah di Little Aresha sering sakit sampai telinganya ‘kopokan’ (keluar cairan),” katanya.

Senada, saksi kedua berinisial HK juga kerap menemukan luka lebam di kaki, jidat, hingga keluar darah dari telinga anaknya. Namun, pihak admin selalu berdalih bahwa luka tersebut akibat gigitan nyamuk atau garukan tangan anak sendiri. Tak hanya itu, sang anak juga sempat mengidap penyakit kulit bernanah di kepala serta infeksi paru-paru (pneumonia).

“Seminggu sebelum penggerebekan anak saya diperiksa kena penyakit kulit borok bernanah di kepala. Kami bawakan obat antibiotik sesuai dosis dan jam di daily report tertulis sudah diminumkan, tapi saya pernah lihat ukuran cairan obatnya tidak berkurang sama sekali. Anehnya, setelah kasus ini terbongkar dan anak berhenti dari sana, anak saya tidak pernah sakit lagi,” tegasnya.

Sementara itu, saksi lainnya berinisial MM, mengaku menitipkan anaknya dari usia 2,5 bulan hingga 17 bulan. Sehingga dia mengaku tidak terlalu memperhatikan adanya perbedaan perilaku. Namun, saat penggerebekan itu terjadi anaknya belum bisa berjalan maupun berbicara. Anaknya bahkan sering menangis dan menunjukkan perilaku tak wajar.

“Anak saya mandi selalu menangis dan pakai baju pasti menangis. Kalau melihat cas (pengisi daya) HP selalu dikalungkan ke leher. Setelah ditunjukkan foto dan video saat penggerebekan, ternyata anak saya memang ditali. Perilaku makannya pun jadi aneh, kepalanya tertunduk dengan tangan kanan-kiri pasrah, bahkan sampai ketiduran saat makan,” tutur Saksi 3 ini.

Saksi MM juga sempat menemukan luka lecet di lengan anaknya seminggu sebelum penggerebekan. Akan tetapi belum sempat mendapat konfirmasi pasti, Daycare Little Aresha tersebut sudah digrebek oleh aparat kepolisian.(Dewi Rukmini)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *