JOGJA, JANASVARA.COM – Semangat kemerdekaan terpancar di jantung Kota Jogja ketika ribuan orang tumpah ruah membentangkan bendera Merah Putih sepanjang 481 meter pada Sabtu (15/8/2026) sore.
Ruang publik dari kawasan Tugu Jogja, Jalan Malioboro, hingga Titik Nol Kilometer mendadak memerah-putih. Kirab Paskibraka, pasukan bregada Keraton Jogja, hingga komunitas sepeda onthel ikut memeriahkan agenda bertajuk Jogja Merah Putih itu.
Danrem 072/Pamungkas, Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono, mengatakan, agenda Jogja Merah Putih itu digelar untuk menyemarakkan HUT ke-81 Republik Indonesia. Total ada 1.000 personel gabungan dari TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga elemen masyarakat terlibat dalam aksi pembentangan kain Merah Putih sepanjang 481 meter tanpa putus.
“Kain itu spesial karena tidak dijahit sambung, melainkan utuh sepanjang 481 meter. Kain 481 meter tersebut memiliki filosofi mendalam, angka empat menyimbolkan empat penjuru mata angin. Dari utara, selatan, timur, dan barat, semua datang ke Kota Jogja untuk memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia,” jelas Yuniar.
Dia menuturkan, kawasan Tugu Jogja dan sepanjang Jalan Malioboro sengaja dipilih sebagai lokasi pembentangan bendera terpanjang itu. Sebab, kawasan tersebut merupakan ruang sejarah tempat terjadinya peristiwa monumental Serangan Umum 1 Maret 1959. Yakni ketika para pejuang bertaruh nyawa merebut kembali Benteng Vredeburg dan menegakkan kedaulatan bangsa.
Selain di jantung Kota Jogja, aksi serupa bakal digelar di tepi Pantai Parangtritis, Kabupaten Bantul, DIY, pada Sabtu (22/8/2026) mendatang.
”Sabtu depan kami lanjut memerah-putihkan sepanjang Pantai Parangtritis. Mengapa Malioboro dan Parangtritis? Karena keduanya adalah ikon strategis Jogja. Kami ramaikan Jogja agar wisatawan merasa aman, nyaman, sekaligus menegaskan identitas sebagai kota wisata, pendidikan, dan budaya,” tuturnya.
Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, menilai aksi kebudayaan dan kebangsaan tersebut menjadi sarana edukasi visual yang sangat berharga bagi lintas generasi.
”Peristiwa seperti ini sangat bagus karena belum tentu ada setahun sekali. Kehadiran masyarakat dan wisatawan luar daerah di sepanjang jalan memberikan makna filosofis mendalam untuk menanamkan rasa kebangsaan dari generasi ke generasi. Kita diingatkan untuk bangga menjadi bangsa Indonesia yang beragam namun tetap satu utuh,” ucap Sri Sultan HB X.
Ngarsa Dalem pun menaruh harapan agar di masa-masa mendatang, partisipasi publik dapat kian diperluas. Sehingga masyarakat yang menonton di tepi jalan tak hanya menjadi saksi mata, melainkan turut memegang dan merasakan sendiri kebanggaan mengusung Sang Saka Merah Putih.
“Harapan saya publik yang nonton di kiri-kanan jalan bisa ikut pegang bendera merah putih. Setidaknya mereka bisa ikut berpartisipasi meski tidak besar. Karena mungkin ada yang tidak bisa mengikuti sampai titik nol kilometer,” tandasnya.
Kemeriahan agenda tersebut tak hanya menyedot perhatian warga lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara, salah satunya Melissa turis asal Prancis yang tengah menghabiskan waktu di Malioboro. Ia mengaku sangat terkesan dengan atmosfer perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia.
”Saya sangat senang berada di sini. Sangat indah melihat orang-orang Indonesia begitu berdedikasi pada negara mereka,” ujar Melissa.
Menurutnya, antusiasme masyarakat yang berkumpul merayakan momentum peringatan Hari Kemerdekaan membuat acara perdana tersebut berjalan sangat sukses. Ia juga memuji keramahan warga lokal serta keindahan budaya Jogja.
”Orang-orang di sini sangat ramah dan menyambut kami seperti keluarga sendiri. Makanan di sini lezat dan kotanya kaya akan budaya. Ini adalah kota yang indah dan saya akan mengajak siapa saja untuk datang lagi berkunjung ke Jogja,” tutup dia.(Dewi Rukmini)












