Harga dari Pemasok Tinggi, KKMP Kesulitan Bersaing

Kota Jogja22 Dilihat
banner 468x60

JOGJA, JANASVARA.COM – Harga barang dari pemasok tinggi, koperasi kalurahan merah putih (KKMP) kesulitan bersaing dengan toko-toko yang sudah ada sebelumnya. Hal itu masih ditambah proses administrasi dan regulasi untuk memperoleh pasokan dinilai masih menyulitkan.

Akibatnya, harga jual barang di koperasi terkadang tidak mampu bersaing dengan toko modern maupun pasar yang sudah lebih dulu menjangkau masyarakat. “Harapan kami Pemkot bisa memfasilitasi dan menyambungkan kami sebagai penyedia barang dengan Bulog. Sebab, ada beberapa proses birokrasi yang masih terlalu berbelit-belit,” kata ketua KKMP Gunungketur, Muhammad Reza Murtaza, Senin (2/11/2026).

banner 336x280

Reza menilai kemudahan akses distribusi menjadi hal penting agar tujuan pembentukan Koperasi Merah Putih dapat tercapai, terutama dalam memangkas rantai distribusi dan mengurangi ketergantungan terhadap tengkulak.

Ia menegaskan, koperasi tidak meminta perlakuan khusus berupa subsidi. Namun, pemerintah diharapkan memberikan kemudahan regulasi agar koperasi bisa mendapatkan pasokan barang dengan harga kulakan yang lebih terjangkau.

Hal itu juga berlaku untuk sejumlah komoditas yang distribusinya berkaitan dengan Bulog maupun LPG. Menurut dia, akses tersebut perlu diperjelas agar koperasi di Kota Jogja dapat memperoleh kesempatan distribusi secara langsung.

“Kami tidak pernah berharap disubsidi. Tetapi jalur distribusinya yang perlu dipermudah. Kalau harga kulakan kami bisa lebih murah, tentu kami bisa bersaing dengan toko maupun pasar modern,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Reza mengapresiasi respons Dinas Perdagangan Kota Jogja terkait upaya pemenuhan pasokan barang kebutuhan masyarakat melalui koperasi. Ia juga mendukung rencana pendataan warung-warung yang berada di wilayah kelurahan untuk kemudian diarahkan menjadi anggota koperasi. Melalui skema tersebut, koperasi nantinya dapat menyalurkan barang kebutuhan kepada warung-warung yang tergabung sebagai anggota.

Menurut Reza, pola kemitraan tersebut dapat memberikan manfaat bagi koperasi sekaligus menjaga keberlangsungan usaha warung kecil di lingkungan masyarakat. Warung yang menjadi anggota koperasi nantinya berpeluang memperoleh harga kulakan lebih rendah. Dengan demikian, mereka dapat menjual barang kepada masyarakat dengan harga yang lebih kompetitif tanpa harus tersisih oleh keberadaan koperasi.

KKMP Gunungketur, Kemantren Pakualaman, Kota Jogja termasuk salah satu KKMP yang sukses. Tahun ini koperasi tersebut sudah mampu membukukan omzet sebesar Rp250 juta hingga Oktober 2026.Pencapaian tersebut tidak terlepas dari upaya mereka untuk fokus pada penjualan batik.

“Omzet 2025 kemarin baru mengerjakan Rp137,5 juta dari batik saja. Kalau untuk tahun ini, sampai Oktober sudah di angka Rp250 juta,” ujarnya saat diwawancarai, Senin (2/11/2026).
Selain mengembangkan usaha secara mandiri, KKMP Gunungketur juga mendapatkan kepercayaan mengerjakan pesanan batik dari Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja. Nilai pesanan tersebut mencapai sekitar Rp580 juta, termasuk pajak, dengan jumlah produksi sekitar 3.000 batik.

Untuk memenuhi pesanan tersebut, KKMP Gunungketur menggandeng tujuh koperasi lainnya melalui konsorsium produksi batik. Kerja sama ini dilakukan agar seluruh pesanan dapat diselesaikan sesuai tenggat waktu yang telah ditentukan.

Reza menyebut kolaborasi tersebut menjadi salah satu wujud semangat gotong royong antarkoperasi. Masing-masing koperasi mendapatkan bagian pekerjaan, sedangkan proses pengawasan mutu tetap berada di bawah kendali KKMP Gunungketur.

“Karena waktunya hanya satu bulan, akhirnya kami berbagi pekerjaan. Kami mengajak tujuh koperasi lainnya untuk mengerjakan bersama-sama. Untuk quality control tetap dari Gunungketur karena kami yang mendapatkan pesanan,” tuturnya. (Hadid Pangestu)

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *