JOGJA, JANASVARA.COM – Suara dentingan busur dan hebusan angin perlahan melingkupi Gedung Serbaguna RW 07, Kampung Jogoyudan, Kelurahan Gowongan, Kemantren Jetis, Kota Jogja, pada Minggu (23/8/2026). Masih dalam semangat memperingatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, warga RW 07 Kampung Jogoyudan memilih menghidupkan kembali Jemparingan, yakni seni memanah tradisional Gagrak Mataram gaya Ngayogyakarta Hadiningrat.
Pantauan Janasvara.com, warga dari berbagai usia tampak duduk bersila menggenakan baju lurik dan jarik batik saat mengikuti Lomba Jemparingan. Mereka menggenggam busur kayu dan menatap lurus target di hadapan mereka.
Berbeda dengan olahraga panahan modern, Jemparingan dilakukan dengan posisi duduk bersila, membidik secara horizontal, dan ditarik tanpa menggunakan kekeran mata (inceng), melainkan dengan olah rasa.
Lomba Jemparingan itu bukan sekadar mengisi ruang perayaan kemerdekaan, melainkan juga manifestasi menjaga warisan leluhur yang diwariskan sejak era Sri Sultan Hamengku Buwono I.
”Panahan itu dasarnya dari kata manah (hati). Jadi memanah itu pakai hati, tidak diinceng. Dalam jemparingan Jawa, yang diajarkan adalah keberanian, kejujuran, dan ketenangan,” ujar Supriyanto, Ketua RT 30 sekaligus pengurus Paguyuban Jemparingan Gendewa Mataram cabang RW 07, Minggu (23/8/2026).
Dia menjelaskan, aturan dalam jemparingan gagrak Mataram dikatakan sarat akan nilai filosofi kehidupan. Target sasaran yang dinamakan bandul terbagi menjadi beberapa bagian warna yang melambangkan anggota tubuh manusia.
Di antaranya warna merah melambangkan sirah (kepala) berpoin 3, kuning melambangkan janggut/jonggo (leher) berpoin 2, dan putih melambangkan awak (badan) berpoin 1. Uniknya, terdapat bagian di bawah sasaran yang dinamakan mulo. Jika anak panah mengenai bagian tersebut, poin peserta justru akan dikurangi satu.
”Untuk pemenang dipilih yang memiliki nilai atau poin tertinggi. Kalau filosofi Jemparingan itu mengajarkan kedisiplinan dan keteraturan. Gerakannya pun penuh aturan dan nilai moral,” jelasnya.
Supriyanto menambahkan, guna menjaga kelestarian tradisi itu agar tak tergerus zaman, warga RW 07 Kampung Jogoyudan bahkan rutin menggelar latihan bersama setiap Sabtu pagi di wilayah RT 29. Melalui momentum peringatan kemerdekaan tersebut, pihaknya terus memupuk semangat nguri-nguri kebudayaan, melatih ketenangan jiwa, sekaligus mempererat tali silaturahmi warga.
Keseruan perlombaan itu melibatkan berbagai kalangan, mulai dari 15 anak-anak, 10 ibu-ibu, hingga tujuh orang bapak-bapak dari RW 07 Kampung Jogoyudan. Bagi warga yang baru pertama kali mencoba, melengkungkan busur tradisional (gendewa) ternyata memberi pengalaman batin tersendiri, seperti yang dirasakan Sartiningsih (43).
Warga RT 30, RW 07 Kampung Jogoyudan itu mengaku sempat kesulitan menahan dan menarik tali busur. Namun, pengalaman tersebut memberinya pelajaran berharga tentang makna dibalik seni tradisional Jemparingan.
”Sangat bagus untuk melestarikan tradisi. Walau awalnya susah dan berat melatih tarikannya, jemparingan ini mengajarkan saya tentang kesabaran, ketelatenan, dan kejelian,” ungkapnya. (Dewi Rukmini)










