Timnas Menang, Tetapi Dimana Sepakbola Indonesia? (Bagian 1)

Catatan Wahyudi Kurniawan

Olahraga114 Dilihat
banner 468x60

KEMENANGAN Tim Nasional Indonesia selalu menjadi kegembiraan bagi kita semua. Ketika Merah Putih menang, tentu tidak ada alasan untuk tidak memberikan apresiasi kepada para pemain, pelatih dan seluruh elemen yang berada di balik perjuangan Timnas.

Kemenangan adalah kemenangan. Namun, justru ketika kita sedang menang, ada satu pertanyaan yang menurut saya perlu kita ajukan dengan kepala dingin. Timnas kita memang sedang tumbuh. Tetapi bagaimana dengan sepakbola Indonesia?

banner 336x280

Pertanyaan ini penting karena Tim Nasional dan ekosistem sepakbola nasional adalah dua hal yang berhubungan, tetapi tidak selalu identik. Kita bisa memiliki Timnas yang kuat dalam satu periode, tetapi belum tentu memiliki sistem sepakbola nasional yang kuat dan berkelanjutan. Sebaliknya, sistem sepakbola yang kuat seharusnya pada akhirnya melahirkan Timnas yang kuat. Di sinilah kita perlu melihat persoalan secara lebih utuh.

Bukan Soal Naturalisasi
Saya tidak melihat pemain naturalisasi maupun diaspora sebagai persoalan. Mereka yang telah menjadi warga negara Indonesia dan memilih mengenakan Merah Putih adalah bagian dari Tim Nasional Indonesia. Mereka berhak mendapatkan apresiasi atas perjuangannya. Secara teknis, pelatih juga harus memilih pemain terbaik yang tersedia untuk membangun tim yang kompetitif.

Jadi persoalannya bukan “mengapa pemain naturalisasi bermain untuk Indonesia?” Tetapi “mengapa sistem pembinaan kita belum mampu menghasilkan cukup banyak pemain lokal yang bersaing pada level tertinggi?”

Ini pertanyaan yang berbeda. Naturalisasi bisa menjadi bagian dari strategi memperkuat Timnas.

Tetapi jangan sampai menjadi pengganti pembangunan sistem pembinaan. Naturalisasi seharusnya menjadi akselerator, bukan substitusi pembinaan.

Kita tentu berharap suatu hari nanti pemain diaspora terbaik harus bersaing secara sehat dengan pemain-pemain yang lahir dan ditempa di Bandung, Surabaya, Makassar, Medan, Papua, Maluku, Aceh, Kalimantan, Nusa Tenggara, DIY dan berbagai penjuru Nusantara. Bukan karena kita menolak pemain diaspora. Justru sebaliknya. Kita ingin mereka hadir sebagai bagian dari persaingan sehat dengan pemain-pemain yang lahir dari sistem sepakbola Indonesia sendiri.

Ekosistem Sepakbola
Kalau kita berbicara tentang sepakbola Indonesia, jangan sampai kita berpikir seolah-olah kita memulai dari titik nol. Tidak. Kita sudah memiliki fondasi yang panjang. Ada sekolah sepakbola (SSB), akademi. Kelas Khusus Olahraga (KKO). kompetisi usia dini. kompetisi antarklub, Askab dan Askot, Asprov, klub amatir. Ada Liga 4 dan Liga 3. Ada klub profesional. Ada kompetisi pelajar dan perguruan tinggi. Ada stadion dan lapangan sepakbola di berbagai daerah. Dan tentu ada masyarakat yang mencintai sepakbola.

Persoalannya bukan semata-mata apakah ekosistem itu ada. Ekosistem itu sudah ada. Pertanyaannya adalah Apakah seluruh mata rantai itu sudah tersambung dengan baik? (JANASVARA.COM/Bersambung)

Wahyudi Kurniawan

Mantan Ketua Askab PSSI Sleman 2017–2025

Mantan Waketum Asprov PSSI DIY 2019–2023

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *