Sidang Kasus Daycare Little Aresha Ungkap Adanya Balita Diikat ke Engsel Pintu

Kota Jogja19 Dilihat

JOGJA, JANASVARA.COM – Orang tua salah satu korban kekerasan terhadap anak di Daycare Little Aresha mengaku syok ketika ditunjukan video kondisi anaknya yang dititipkan. Imedia Dwi Anjani, baru mengetahui dugaan aksi penganiayaan dan penyekapan yang dialami putranya pada malam pascapengerebekan polisi di Daycare Little Aresha. Saat itu ada polisi datang ke rumahnya dan menunjukkan video pengerebekan yang memperlihatkan kondisi buah hatinya saat ditemukan.

“Saya syok luar biasa saat ditunjukkan rekaman video oleh petugas. Anak saya ditemukan dalam kondisi hanya mengenakan diapers (popok) tanpa baju, kakinya diikat menggunakan tali ke engsel pintu dalam posisi berdiri. Di sekitarnya, banyak anak-anak lain yang juga tidak berpakaian,” kata Imedia, Rabu (26/8/2026).

Pengakuan tersebut diungkapkan Imedia Dwi Anjani ketika menjadi saksi dalam sidang lanjutan perkara dugaan kekerasan anak di Daycare Little Aresha Jogja.Sidang yang berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Jogja pada Rabu (26/8/2026) tersebut agendanya pemeriksaan saksi,. Sebanyak 10 orang tua korban dihadirkan sebagai saksi oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang tersebut.

Dalam persidangan yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim, Sunaryanto, itu para saksi mengungkapkan kronologi awal menitipkan buah hatinya ke Daycare Little Aresha. Hingga dugaan perilaku tak manusiawi kepada balita terbongkar saat penggerebekan oleh jajaran Polresta Jogja pada 24 April 2026 lalu.

Setelah hari itu, Imedia mengaku langsung membawa anaknya ke RSUD Kota Jogja untuk menjalani visum et repertum, guna mencatat bekas luka fisik dan ikatan pada tubuh korban. Imedia juga berusaha menggali apa saja yang dialami putranya selama dititipkan di daycare tersebut.

Karena putranya belum bisa diajak bicara dua arah, akhirnya Imedia mengumpulkan kesaksian dari anak-anak lain melalui orang tua masing-masing. Dari kesaksian tersebut terungkap bahwa putra Imedia sering diikat dan dikurung di kamar kosong sendirian. Bahkan ada seorang anak mengaku pernah dikurung bersama putranya yang sedang dalam posisi diikat. “Terus A [anak lainnya] pernah bilang kalau B [putra Imedia] pernah jatuh dari tangga, guling-guling, nangis kenceng banget,” ungkapnya.

Di hadapan Majelis Hakim, Imedia sempat menceritakan kronologi putranya, B (4,5),  dititipkan ke Daycare Little Aresha Jogja. Dikatakan, B dititipkan ke tempat penitipan anak itu saat berusia 3 tahun dua bulan.

Imedia mengungkapkan bahwa putranya sudah didiagnosa Autism Spectrum Disorder (ASD)  ringan sebelum mendaftar ke Daycare Little Aresha. Kondisi tersebutlah yang membuat Imedia selektif dalam memilih tempat penitipan anak.

Imedia mencari informasi dari Google dan menemukan Daycare Little Aresha yang memiliki rating (nilai ulasan) tertinggi. Lalu dia melakukan survei ke lokasi. Namun, survei tersebut dijadwalkan pada Minggu ketika anak-anak libur. Saat itu, Imedia mengaku bertemu dengan Diyah Kusumastuti, Ketua Yayasan Little Aresha.

“Saya jelaskan kondisi anak saya yang ASD ringan. Pihak daycare melalui Ibu Diah meyakinkan bahwa mereka sanggup mengasuh, bahkan menjanjikan adanya terapi wicara serta fasilitas yang memadai,” ujarnya.

Ketika survei, Imedia diperlihatkan fasilitas daycare mulai dari kamar tidur ber-AC, tempat tidur dan loker untuk masing-masing anak,kamar mandi yang memiliki water heater, dapur, ruang bermain, serta area bermain outdoor.

Dia sempat bertanya jumlah anak dan pengasuh yang akan mendampingi setiap hari. Dikatakan, kala itu Diyah menjawab bahwa jumlah murid seusia putranya ada tujuh anak. Sedangkan untuk pengasuh ada tiga orang, sehingga masing-masing pengasuh mendampingi dua anak. Selain itu, anak-anak juga mendapatkan jatah makan dan snack satu kali setiap hari.

Mendengar fasilitas tersebut, Imedia pun tergiur dan memutuskan menitipkan putranya ke Daycare Little Aresha. Kala itu dia membayar biaya pendaftaran Rp250 ribu, biaya lain-lain Rp500 ribu, biaya seragam Rp200 ribu, dan SPP Rp1,1 juta per bulan.

Terkait perizinan, Diyah sempat mengklaim tempatnya sudah berizin resmi. Namun, Imedia mengaku tidak pernah melihat dokumen izin tersebut dipajang di lokasi.

Pihak daycare juga memberi informasi perkembangan anak dengan laporan harian (daily report) WhatsApp yang dikirimkan malam hari antara pukul 19.00 hingga 21.00 WIB. Laporan tersebut mencakup detail konsumsi makanan, minum susu, jadwal obat, hingga foto kegiatan. Menurut Imedia, Diyah sendirilah yang mengaku kepada orang tua bahwa seluruh akun WhatsApp admin dipegang penuh oleh dirinya.

Lebih lanjut, Imedia mengungkapkan adanya perubahan perilaku putranya sejak dititipkan di Daycare Little Aresha. Di antaranya, putranya menjadi lebih agresif, suka memukul, mencubit, serta menunjukkan gerakan hiperaktif yang tidak terkontrol.

​”Setelah penggerebekan, baru saya sadari B punya kebiasaan baru suka mengikat-ikat tangan dan kaki mainannya. Setelah saya konsultasikan ke psikolog dan terapis, agresivitas dan perilaku itu diduga dampak karena sehari-hari di daycare dia memang diikat,” jelas Imedia.

​Ia juga menambahkan bahwa sepanjang masa penitipan kerap menemukan luka memar dan goresan pada tubuh putranya sekitar satu sampai dua kali dalam sebulan. Ketika ditanyakan, pihak daycare selalu berdalih bahwa luka tersebut akibat putranya terjatuh atau membentur mainan saat beraktivitas.(Dewi Rukmini)