Den Baguse Ngarsa Dikenal Gemar Ngangkring Bareng Warga

Kota Jogja9 Dilihat
banner 468x60

JOGJA, JANASVARA.COM – Seniman asal Kota Jogja yang dikenal dengan karakter Den Baguse Ngarsa, Susilo Nugroho, tutup usia pada Senin (21/9/2026). Kepergian sosok yang dikenal luas lewat pementasan teater dan berbagai tayangan komedi itu meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, sahabat, maupun warga di lingkungan tempat tinggalnya.

​Di mata warga sekitar, almarhum dikenal sebagai pribadi yang sangat ramah, humoris, dan merakyat. Sosoknya kerap membaur tanpa sekat bersama warga dalam kehidupan sehari-hari.

banner 336x280

​Ketua RW setempat, Eko Teguh, mengenang almarhum sebagai figur yang hangat dan kerap mencairkan suasana di lingkungan tempat tinggalnya.

​”Beliau itu sangat familiar dan humoris. Sering kumpul dan mengobrol dengan warga di angkringan sampai malam. Kami semua sangat kehilangan,” ujar Eko Teguh, Senin (21/9/2026).

​Kepergian almarhum yang terkesan mendadak juga mengejutkan pihak keluarga. Kakak kandung mendiang, Sukanti, menceritakan kronologi awal ditemukannya Susilo yang tak kunjung bangun hingga sore hari.

​”Yang jelas kami semua tidak ada yang tahu. Susilo itu kalau tidur biasanya sekitar tengah malam atau lewat tengah malam. Tapi sampai sore kok enggak bangun-bangun. Setelah keluarganya curiga, ngundang keluarga saya juga tidak ada yang tahu. Akhirnya kami ngundang Pak RW, kebetulan Pak RW-nya itu mantan tenaga medis,” tuturnya.

​Lebih lanjut, Sukanti menjelaskan bahwa Ketua RW sempat melakukan pemeriksaan visual awal, namun untuk kepastian medis almarhum segera dilarikan ke rumah sakit. Almarhum dipastikan meninggal dunia sekitar pukul 17.00 WIB.

​Menurut Sukanti, selama ini almarhum tidak memiliki riwayat penyakit dalam yang serius dan selalu menjaga pola makan sehat.

​”Di keluarga saya itu kan banyak yang kena diabetes, tapi Susilo justru yang paling sehat. Makan juga hati-hati, tidak pernah makan nasi putih, milihnya nasi jagung dan makannya enggak banyak. Berat badan juga normal. Tidak pernah mengeluh sakit apa-apa dan jarang sakit,” jelasnya.

​Meski demikian, Sukanti mengungkapkan sehari sebelum ditemukan meninggal dunia, tetangga dekat bercerita bahwa almarhum sempat mengeluhkan pegal di bagian bahu.

​”Cuma katanya tadi malam itu tetangga dekat cerita, kalau dia (mendiang) mengeluh bahunya sakit terus dipijit-pijit, cuma gitu saja. Mau dibawa ke rumah sakit dia bilang enggak mau. Enggak ada keluhan apa-apa,” tambah Sukanti.

​Hingga saat-saat terakhirnya, Susilo Nugroho diketahui masih sangat aktif berkesenian dan tetap menjalankan rutinitas hariannya berkumpul bersama warga di angkringan depan rumah.

​”Aktif terus (berkesenian). Bahkan malam sebelumnya sama saya masih jagongan (nongkrong). Itu malah sehari ketemu dua kali, sore ngangkring terus pulang, malamnya ngangkring lagi. Biasanya kami ngeledekin atau gojek (bercanda) sama yang jualan angkringan,” kenangnya.

​Meskipun dikenal humoris di panggung pertunjukan dan saat bersosialisasi, Sukanti menyebut adik kandungnya itu sebenarnya sosok yang cukup serius di dalam lingkaran keluarga.

​”Dia di antara saudara-saudara, kakak dan adik-adik saya, termasuk anak yang serius. Kalau kami bicara, ditanggapi serius,” tuturnya.

​Darah seni yang mengalir dalam diri Susilo Nugroho rupanya diturunkan dari kakeknya. Bahkan ayah mereka juga dekat dengan seni tradisi Jawa, seperti mahir dalam macapatan dan memiliki keahlian menulis huruf Jawa dengan sangat indah.

​Mendiang Susilo Nugroho meninggalkan seorang istri, dua orang putri yang masing-masing berdomisili di Jogja dan Semarang, serta tiga orang cucu.

Mengenai rencana tempat pemakaman, pihak keluarga masih mendiskusikannya sembari menunggu kondisi emosional sang istri kembali stabil. (Dewi Rukmini)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *