JOGJA, JANASVARA.COM – Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, resmi meluncurkan program Kampung Inggris Kota Yogyakarta (KRISTA) di SD Keputran 2, Kemantren Kraton, Kota Jogja pada Kamis (5/11/2026). Program tersebut hadir sebagai upaya pemerintah untuk memperkuat posisi Jogja yang terkenal dengan julukan Kota Pelajar.
Hasto menjelaskan, kehadiran Kampung Inggris itu bermula dari gagasan sederhana untuk menghadirkan ruang belajar komunikasi global yang inklusif di Kota Gudeg. Menurut dia, sudah selayaknya Jogja yang menjadi Kota Pendidikan memiliki best practice (praktik baik) atau standar percontohan dalam penguasaan bahasa asing yang bisa diakses masyarakat secara cuma-cuma.
“Sebetulnya kan kami perlu penanda keistimewaan dalam bentuk yang bukan kebendaan. Nah yang tidak kebendaan itu salah satu keistimewaan kita [Kota Jogja] itu sebagai Kota Pelajar. Maka sebagai Kota Pelajar, harapannya kami bisa menjadi best practice dalam komunikasi yang baik,” jelas Hasto ditemui usai acara, Kamis (5/11/2026).
Dia menyebut, program Kampung Inggris itu ditargetkan dapat menyasar tiga basis masyarakat, antara lain student (pelajar dan mahasiswa), UMKM, serta pariwisata. Untuk segmen student, program tersebut diharapkan bisa membantu para pelajar dan mahasiswa yang ingin belajar bahasa Inggris tanpa perlu merogoh kocek.
Adapun, segmen kedua difokuskan pada penguatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Melalui peningkatan kemampuan komunikasi global, para pelaku UMKM lokal diharapkan mampu memperluas networking (jaringan), menembus pasar ekspor, dan mendongkrak penjualan produk mereka.
”Jadi, banyak pengusaha UMKM usaha kecil yang pengen [ingin] sekali untuk mengekspor. Kemudian untuk membuat networking dengan komunikasi yang baik, maka harapan saya bisa lebih laris,” ujarnya.
Sementara itu, sasaran ketiga dipusatkan pada sektor pariwisata guna mengoptimalkan potensi destinasi di berbagai sudut kota. Hasto menjelaskan, ketiga pilar target tersebut akan dikuatkan secara merata di Kota Jogja melalui berbagai payung program pendukung.
Di antaranya dengan kolaborasi one village one sister university yang melibatkan perguruan tinggi dan mahasiswa, serta program inovatif ‘Bule Mengajar’ yang kini telah diuji coba di tujuh sekolah di Kota Jogja.
Hasto memaparkan, melalui program Bule Mengajar itu wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Kota Jogja diberi kesempatan untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Mereka nantinya juga akan mendapatkan sertifikat resmi sebagai bentuk kegiatan sosial (social worker).
Lebih lanjut, Hasto membeberkan bahwa program Kampung Inggris bisa diakses masyarakat Kota Jogja secara gratis. Kebijakan itu diambil lantaran dirinya tidak ingin memberatkan warga, khususnya para pelaku usaha kecil yang ingin meningkatkan kemampuan berbahasa asing.
”Ya, kalau untuk warga, saya minta diberikan [gratis]. Sementara ini menjadi program kami, kalau warga UMKM suruh bayar kursus bahasa Inggris, ya beratlah. Maka ini malah kami berikan gratis,” tegas dia.
Tak hanya itu, Hasto melanjutkan, fasilitas pembelajaran bahasa Inggris gratis tersebut nantinya juga akan diintegrasikan dengan program Jam Belajar Masyarakat (JBM). Sehingga warga dapat memanfaatkannya dengan lebih mudah di lingkungan masing-masing.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Jogja, Agus Trimadi, mengungkapkan, program percontohan Kampung Inggris di Kota Jogja itu telah dipetakan di lima titik lokasi strategis. Pemilihan lokasi tersebut disesuaikan dengan potensi masing-masing wilayah yang bersinggungan langsung dengan sektor pendidikan, UMKM, dan pariwisata.
“Saat ini ada lima [lokasi]. Jadi ada tiga Kelurahan Demangan, yakni di Kampung Sapen, Pengok, dan Demangan sendori. Kemudian, lokasi lain di Taman dan Prawirotaman,” ujarnya.
Agus merinci, wilayah Taman dan Prawirotaman dipilih karena posisinya yang strategis sebagai gerbang utama kawasan pariwisata di Kota Yogyakarta. Sedangkan wilayah Sapen dan sekitarnya dipilih lantaran memiliki ekosistem pendidikan yang kuat, dengan banyaknya institusi pendidikan serta mahasiswa yang beraktivitas di kawasan tersebut.
Terkait pelaksanaan di lapangan, Agus menuturkan, skema pembelajaran dirancang selayaknya kelas edukasi pada umumnya di tengah masyarakat. Materi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan spesifik dari masing-masing basis sasaran, baik untuk penguatan kapasitas pelajar, peningkatan daya saing pelaku UMKM dalam melayani wisatawan, maupun kesiapan warga di kawasan destinasi wisata.
Meski menyasar berbagai kalangan usia, termasuk warga lanjut usia, proses pembelajaran dipastikan akan berjalan secara bertahap dan komunikatif.
”Mungkin tantangannya bagaimana kami menyiapkan instruktur-instruktur ini dapat memberikan pelajaran dan transfer knowledge sesuai dengan tahapan-tahapan, alon-alon tapi kena [pelan-pelan tapi mengena], seperti itu ya,” imbuhnya.
Sebagai program percontohan, Disdikpora Kota Jogja berharap sosialisasi yang masif usai soft launching ini dapat menarik minat masyarakat luas untuk turut serta. Agus menegaskan bahwa seluruh rangkaian program pembelajaran Kampung Inggris tidak dipungut biaya alias gratis.
“Bagi masyarakat yang tertarik untuk bergabung dan meningkatkan kemampuan bahasa Inggris sesuai dengan potensi wilayahnya, pendaftaran dapat dilakukan secara langsung melalui pengampu wilayah masing-masing, seperti kelurahan maupun pengurus kampung setempat,” tandasnya. (Dewi Rukmini)










