Cerita Guru Usai Santap MBG: Tenggorokan Sakit hingga Masuk IGD

Sleman41 Dilihat

SLEMAN, JANASVARA.COM – Salah seorang guru SMP Negeri 3 Turi, Septiadi Irawan Saputra, mengungkapkan pengalamannya setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (7/9/2026).

Septiadi merupakan satu-satunya guru di sekolah tersebut yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG. Pada saat bersamaan, sejumlah siswa juga dilaporkan mengalami keluhan kesehatan.

Saat ditemui pada Rabu (9/9/2026), Septiadi mengatakan dirinya bertugas sebagai piket pada hari kejadian. Tugasnya saat itu membagikan makanan MBG kepada para siswa di sejumlah kelas.

Setelah seluruh makanan dibagikan, ia kemudian menyantap jatah yang diperuntukkan bagi guru sembari menyelesaikan pekerjaannya menggunakan laptop.

“Kebetulan saya piket Senin, terus anak-anak saya bagikan bersama jatah untuk guru. Di situ memang ada yang dicicipi guru. Karena sudah dibagi ke guru dan anak, saya makan sembari mengerjakan tugas di laptop,” ujar Septiadi.

Ia menjelaskan, ketika mulai makan, nasi masih tersedia, sedangkan lauk bakso sudah tersisa sedikit.

“Yang makan kan guru dulu, kemudian anak-anak. Saya kemudian makan, nasinya masih ada, tapi bakso sudah habis. Itu langsung bakso nasi masih setengah, kurang lebih sedikit,” katanya.

Tidak lama kemudian, sekitar 15 hingga 20 menit setelah makan, Septiadi mulai merasakan gangguan pada tenggorokannya. Ia menggambarkan sensasinya seperti tenggorokan terkunci dan terasa sakit.

Ia juga mengalami kesulitan menelan maupun memuntahkan makanan. Septiadi kemudian meninggalkan ruangan dan membeli minuman dengan harapan kondisinya membaik.

Namun, setelah minum, rasa mual justru semakin kuat. Ia kemudian pergi ke kamar mandi dan berusaha muntah, tetapi tidak ada makanan yang keluar.

“Saya beli minum, tapi malah mual dan langsung pergi ke kamar mandi. Saya muntah tapi enggak keluar. Muka merah, mata merah, mata saya berat,” tuturnya.

Setelah mengalami kondisi tersebut, Septiadi melaporkannya kepada koordinator atau penanggung jawab (PIC) MBG di sekolah. Pihak sekolah kemudian mengimbau siswa yang merasakan keluhan agar tidak meneruskan makanan.

Keluhan serupa juga mulai muncul pada siswa. Beberapa di antaranya mengalami mual, muntah dan sakit tenggorokan.

Septiadi selanjutnya dibawa ke RSUD Sleman untuk mendapatkan pemeriksaan medis. Dalam perjalanan, ia masih merasakan sakit ketika menelan dan harus menahan keinginan untuk muntah.

“Saya langsung ke RSUD Sleman diantar Pak Udim. Di jalan menelan sakit, mau muntah saya tahan,” katanya.

Sesampainya di IGD, ia menyebut kondisi wajahnya telah memerah. Setelah menjalani pemeriksaan awal, dokter kemudian mengarahkan dirinya untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dari dokter THT karena keluhan berada di bagian tenggorokan.

“Di IGD sudah merah, darah kapilernya pecah, pembuluh darah kapiler pecah,” ujarnya.

Setelah kondisinya membaik dan ia sudah mampu makan, minum serta menelan, Septiadi menjalani pemeriksaan rontgen. Ia kemudian mendapatkan obat untuk mengatasi peradangan dan antibiotik sebelum akhirnya diperbolehkan pulang.

Sementara itu, pendataan terhadap siswa yang mengalami gangguan kesehatan masih berlangsung. Septiadi menyebut jumlah siswa yang masuk dalam pendataan sementara mencapai 58 orang hingga hari kedua.

“Ada list 58 anak kita bawa ke puskesmas. Kita data, si A keluhannya apa. Itu ada keluhannya, ada datanya,” jelasnya.

Menurut dia, angka tersebut masih belum final karena terdapat siswa yang kembali mengalami keluhan serta adanya laporan siswa baru yang sakit.

Sebagian siswa yang sudah mendapat obat diperbolehkan pulang untuk melanjutkan pengobatan. Sementara itu, 13 siswa dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan.

Ia menegaskan proses pendataan masih berjalan sehingga jumlah korban belum dapat dipastikan.

Di sisi lain, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan MBG ke sekolah disebut akan menghentikan produksi selama 20 hari.

Selama penghentian tersebut, para siswa diminta membawa bekal makanan dari rumah. Siswa yang mengalami gangguan kesehatan juga diminta tidak mengikuti kegiatan belajar di sekolah untuk sementara.

“SPPG 20 hari enggak memproduksi, anak-anak bawa bekal sendiri. Yang sakit kita larang sekolah,” ungkap Septiadi.

Terkait dugaan kejadian tersebut, Septiadi mengatakan belum mengetahui adanya pernyataan resmi yang menyebut SPPG bertanggung jawab. Menurutnya, informasi yang diterima sejauh ini baru terkait penghentian produksi selama 20 hari.

“Kalau statement resmi dia bertanggung jawab belum ada. Kalau statement resmi hanya dia tidak masak 20 hari,” katanya.

Septiadi juga mengaku belum mengetahui secara pasti perkembangan penanganan dari pihak sekolah maupun pihak terkait. Ia belum sempat bertemu dengan kepala sekolah karena tidak masuk sekolah pada hari setelah kejadian.

Hingga Rabu (9/9/2026), dua unit ambulans masih disiagakan untuk mengantisipasi apabila ada siswa yang membutuhkan pertolongan medis. Dari dua ambulans tersebut, satu unit di antaranya masih berjaga. (Hadid Husaini)