Kritik Program MBG, Ibu-ibu di Jogja Gelar Aksi Jalan Sehat Sambil Pukul Panci

Sleman17 Dilihat

JOGJA, JANASVARA.COM – Suara gemerincing dan dentingan alat-alat dapur memecah hiruk-pikuk sore di kawasan Tugu Golong-Gilig Jogja pada Selasa (8/9/2026) sore. Puluhan ibu rumah tangga tampak berjejer merapatkan barisan sambil membawa panci, wajan, hingga sendok sayur.

Para perempuan yang tergabung dalam gerakan Suara Ibu Indonesia Yogyakarta itu menggelar aksi jalan sehat bernada protes. Mereka berjalan santai dari kawasan Tugu Jogja menuju Bundaran UGM sembari memukul panci dan wajan yang dibawa.

Peralatan rumah tangga yang kerap ditemukan di sudut dapur rumah itu, kini dibawa ke jalanan. Alat tersebut dijadikan instrumen penanda bahaya dan simbol perlawanan atas kondisi darurat keselamatan anak.

Perwakilan Suara Ibu Indonesia Yogyakarta, Kalis Mardiasih (34), menjelaskan bahwa aksi riuh itu merupakan bentuk keprihatinan mendalam atas melonjaknya angka korban keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dinilai tidak gratis dari dampak keselamatan.

​Aksi itu sengaja digelar tepat untuk memperingati satu tahun pertama kali gerakan tersebut digelorakan.

​“Satu tahun lalu kami berdiri di Jogja untuk merespons Kejadian Luar Biasa (KLB) di Bandung Barat dengan korban keracunan massal mencapai 3.000 pelajar. Sore hari ini, setelah satu tahun, angka korban justru sudah membengkak hingga mencapai lebih dari 43.000 pelajar, termasuk ibu dan anak-anak,” ujar Kalis di sela aksi, Selasa.

Menurut dia, banyaknya jumlah korban MBG itu membuktikan bahwa pengelola negara yang memiliki mandat kekuasaan untuk bertanggung jawab atas program prioritas itu, sama sekali tidak mendengarkan suara rakyat yang menginginkan negara berpihak kepada anak.

​Kalis juga menyayangkan respons pengelola negara yang dinilai mengabaikan masukan dari para pakar dan ilmuwan. Ia menilai perbaikan yang dilakukan pemerintah sejauh ini, hanya sebatas pergantian pejabat tanpa membenahi akar masalah tata kelola program MBG.

​“Yang dilakukan negara hanya bongkar pasang kepala BGN. Ada yang tersandung kasus mega korupsi, lalu diganti lagi. Padahal ilmuwan sudah mengingatkan untuk hentikan dulu program itu, rombak total desain tata kelolanya agar anak-anak selamat. Prinsipnya satu, harus berpihak kepada anak,” tegas ibu dari satu anak tersebut.

​Protes yang dikemas dalam aksi jalan sehat itu juga menyoroti pengalihan fokus anggaran pusat di tengah maraknya bencana ekologis di berbagai wilayah Indonesia. Di antaranya mulai dari pemulihan Sumatra, kebakaran hutan di Kalimantan dan NTT, hingga krisis di Papua Pegunungan.

​Menurut Suara Ibu Indonesia, negara seharusnya menitikberatkan prioritas pada perlindungan kehidupan dan kelompok rentan, ketimbang mempertahankan program yang dipaksakan.

​“Suara panci ini adalah simbol sangat darurat. Ketika para ibu sudah keluar rumah membawa alat domestik mereka ke jalan, itu artinya kami meminta pengelola negara membuka telinga lebar-lebar. Jika sudah dipukul seperti ini telinganya tetap tidak mendengar, fix tidak punya malu,” ujar Kalis sambil memukul panci.

Keresahan serupa juga disampaikan Intan (40). Warga Kabupaten Sleman, DIY, itu menentang cara eksekusi program MBG di lapangan. Sambil menggengam panci, Intan menilai pengelolaan konsumsi anak seharusnya tidak dipaksakan secara tersentralisasi oleh pemerintah.

​“Ini adalah simbol bahwa pada dasarnya makanan itu sebaiknya dikembalikan ke ruang keluarga saja, tidak perlu diurusi oleh negara dengan sangat tamak,” katanya.

Intan tak menampik bahwa ada wilayah tertentu yang memang membutuhkan bantuan pemenuhan gizi anak. Namun, menurutnya, penerapan program MBG saat ini terkesan brutal dan carut-marut tanpa melihat skala prioritas kebutuhan.

“Bahkan ada beberapa sekolah-sekolah yang harusnya tidak perlu mendapatkan MBG, karena rata-rata keluarganya mampu. Tapi itu juga harus mendapatkan MBG,” paparnya.

Dia sendiri berharap, program MBG bisa diberlakukan lebih tepat guna. Tapi melihat banyaknya kasus keracunan massal akibat program tersebut, Intan menilai MBG kini harus dikaji ulang. (Dewi Rukmini)