TKD Dipotong Rp279 Miliar, Bupati Sleman Ajak Kolaborasi Lintas Sektor

Sleman18 Dilihat
banner 468x60

SLEMAN, JANASVARA,COM– Anggaran Dana Transfer ke Daerah (TKD) Pemerintah Kabupaten Sleman tahun anggaran 2026 mengalami pemotongan sebesar Rp279 miliar. Dengan biaya yang semakin minim, pengelolaan anggaran harus tepat sasaran.

“Untuk mengoptimalkan pendapatan, kuncinya kolaborasi. Saya yakin kalau kolaborasi terbentuk, pertumbuhan ekonominya pun akan mengikuti,” kata Bupati Sleman Harda Kiswaya saat meresmikan Pancuran Tuk Bulus Sleman, Sabtu (31/10/2026).

banner 336x280

Untuk itu dia minta pengelola wisata mengutamakan komunikasi dan kolaborasi lintas sektor. “Hari ini [Pancuran Tuk Bulus] sudah berkembang baik. Apa yang sudah dikembangkan oleh warga ini mari didukung dan pemerintah akan menindaklanjuti sebagai program mensejahterakan masyarakat,” kata Bupati.

Komunikasi antara masyarakat dan pemerintah sangat dibutuhkan dalam pengembangan wisata. “Jangan sungkan untuk dikomunikasikan kepada pemerintah, karena kemajuan didasari oleh pola komunikasi yang baik,” lanjutnya.

Pengembangan Pancuran Tuk Bulus ini didukung beberapa perguruan tinggi seperti Institut Pertanian Yogyakarta (Instiper) dan Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) melalui program pengabdian masyarakat. “Kolaborasi seperti ini mari kita bangun sehingga programnya masyarakat Bimomartani dan universitas bisa nyambung. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri sehingga kolaborasi pentahelic sangat diperlukan,” ujar dia.

Pancuran Tuk Bulus merupakan objek wisata pemandian yang terletak di dusun Tegal Balong, Bimomartani, Ngemplak, Sleman. Sumber air di pemandian ini tidak pernah mati sehingga keberadaannya dikembangkan menjadi objek wisata mulai 2019.

Pengembangannya meliputi pembangunan fisik dan nonfisik. Pembangunan fisik seperti pembuatan kolam pemandian untuk dewasa dan anak-anak, kolam ikan terapi, kolam bulus (kura-kura), pembuatan taman, toilet dan warung, pembangunan rumah budaya untuk pertunjukan kesenian, hingga pengembangan area outbond. Sementara nonfisik seperti pengembangan kesenian karawitan, tari, gejug lesung, dan jatilan.

Lurah Bimomartani Tutik Wahyuningsih menyampaikan sebelum berkembang menjadi objek wisata, air dari Pancuran Tuk Bulus dimanfaatkan untuk mandi sebagian warga dan pengairan sawah untuk pertanian sekitar. “Sekarang sudah terbukti bahwa Tuk Bulus menjadi icon wisata Bimomartani,” kata Tutik.

Ketua Pengelola Pancuran Tuk Bulus, FX Eko Handana Putra menjelaskan wisatawan datang dari berbagai daerah. Mereka tidak hanya datang untuk berenang tetapi ada pula yang memanfaatkan fasilitas outbond. Homestay di dusun Tegal Balong juga menjadi pendukung kegiatan wisata di tempat ini.

Ia mengatakan peresmian Pancuran Tuk Bulus dimeriahkan dengan serangkaian acara, seperti pementasan Jatilan Turonggo Mudho Baruno, Karawitan Geger Budaya, tarian Sanggar Tari Rahino Budoyo, dan kesenian Gejug Lesung Jati Rasa Manunggal. “Setelah meresmikan Pancuran Tuk Bulus, Bupati juga melakukan seremonial penanaman pohon beringin putih di sejumlah lokasi pemandian,” kata dia. (Wisnu Wardhana)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *