Sleman dan Potensi yang Sudah Ada (Bagian 3)

Catatan Wahyudi Kurniawan

Olahraga30 Dilihat
banner 468x60

SAYA berbicara tentang Sleman bukan semata-mata sebagai pengamat. Saya pernah berada di dalam perjalanan organisasi sepakbola Sleman selama beberapa tahun. Dan saya melihat sendiri bahwa sepakbola Sleman sesungguhnya mempunyai modal yang besar.

Ada klub-klub masyarakat, sekolah sepakbola (SSB), akademi, kelas khusus olahraga (KKO), kompetisi usia muda, kompetisi amatir, klub yang berkompetisi di berbagai jenjang. PSS sebagai klub professional serta ada lapangan dan fasilitas. Dan yang paling penting, ada masyarakat yang memiliki kecintaan kuat terhadap sepakbola.

banner 336x280

Artinya, anak-anak Sleman sebenarnya memiliki banyak pintu untuk mulai bermain sepakbola. Persoalannya adalah bagaimana pintu-pintu tersebut dihubungkan menjadi sebuah jalan yang jelas.

Seorang anak masuk SSB. Kemudian berkembang. Masuk kompetisi usia muda. Mendapat kesempatan mengikuti pembinaan yang lebih tinggi. Masuk KKO atau akademi. Bermain di klub. Naik ke kompetisi amatir kemudian masuk Liga 4 atau Liga 3. Kemudian mendapatkan kesempatan menuju klub profesional. Dan jika memang memiliki kualitas, mendapatkan kesempatan menuju level nasional.

Inilah yang saya sebut sebagai football pathway. Jalur yang jelas dari lapangan kecil menuju level tertinggi.

Kompetisi Amatir
Ada satu hal yang menurut saya sangat penting. Kita jangan menganggap kompetisi amatir sebagai sesuatu yang tidak penting. Justru kompetisi amatir adalah salah satu fondasi sepakbola.

Di sana pemain mendapatkan menit bermain dan pelatih berkembang. Di sana wasit berkembang serta pengawas pertandingan dan perangkat pertandingan mendapatkan pengalaman.
Di sana klub belajar mengelola organisasi dan pemain yang belum mendapatkan kesempatan di level profesional tetap memiliki ruang untuk berkembang. Karena itu, Liga 4, Liga 3 dan kompetisi daerah bukan sekadar kasta bawah. Mereka adalah bagian dari piramida sepakbola.

Jika bagian bawah piramida kuat, maka bagian atasnya akan mempunyai basis yang lebih besar. Karena itu kompetisi amatir harus mendapatkan perhatian yang serius. Bukan hanya dalam penyelenggaraan pertandingan, tetapi juga dalam kualitas lapangan, perangkat pertandingan, regulasi, pembinaan klub, pendanaan, keamanan dan kesinambungan kompetisi.

Saya sering melihat persoalan terbesar bukan ketika seorang anak mulai bermain sepakbola. Persoalannya justru ketika ia memasuki fase transisi saat usia 15 tahun, 17 tahun, 19 tahun. Di sinilah banyak pemain potensial bisa hilang.

Seorang anak mungkin sangat bagus ketika berusia 11 atau 12 tahun. Tetapi ketika memasuki usia remaja, kompetisinya berkurang. Jalur menuju klub berikutnya tidak jelas.

Orang tua tidak mampu lagi membiayai. Sekolah dan sepakbola tidak terintegrasi. Atau klub tidak mempunyai mekanisme pembinaan lanjutan. Akhirnya anak tersebut berhenti. Padahal mungkin saja ia memiliki potensi menjadi pemain profesional. Karena itu kita membutuhkan sistem yang memastikan talenta tidak hilang karena sistem.

Saya membayangkan sistem pembinaan yang sederhana tetapi jelas. SSB → Akademi → Sekolah/KKO → Klub → Kompetisi Usia Muda → Kompetisi Amatir → Liga 4 → Liga 3 → Klub Profesional → Tim Nasional.

Tidak berarti setiap pemain harus melewati seluruh tahapan tersebut. Tetapi setiap pemain yang memiliki potensi harus mempunyai akses untuk naik ke level berikutnya. Dan setiap level harus mempunyai mekanisme untuk menemukan pemain terbaik dari level di bawahnya.

Dengan demikian, SSB tidak berdiri sendiri. Akademi tidak berdiri sendiri. KKO tidak berdiri sendiri. Klub amatir tidak berdiri sendiri. Liga 4 tidak berdiri sendiri dan liga 3 tidak berdiri sendiri.
Klub profesional juga tidak berdiri sendiri. Semuanya menjadi satu ekosistem.

Butuh Database
Era sepakbola modern juga menuntut kita menggunakan data. Kita membutuhkan database pemain yang berkelanjutan. Bukan hanya nama dan usia. Tetapi juga posisi bermain, perkembangan fisik, kemampuan teknik, kemampuan taktik, riwayat kompetisi, menit bermain, perkembangan dari tahun ke tahun dan rekam jejak pembinaan.

Bayangkan jika seorang pemain usia 14 tahun di sebuah SSB di Sleman mempunyai data yang terus berkembang hingga usia 20 tahun. Ketika ia berpindah klub, datanya tidak hilang.

Ketika ada scouting klub Liga 4, Liga 3 atau profesional, pemain tersebut bisa ditemukan. Ketika ada seleksi tingkat provinsi atau nasional, rekam jejaknya tersedia.Talenta tidak boleh hilang hanya karena sistem administrasi dan scouting kita tidak terhubung.

Kita juga tidak boleh lupa bahwa sepakbola bukan hanya pemain. Kita membutuhkan pelatih yang berkualitas, wasit yang berintegritas, pengawas pertandingan yang profesional, match commissioner yang kompeten, referee assessor yang berkualitas, manajemen klub yang sehat, serta tata kelola kompetisi yang konsisten. Karena itu pembangunan sepakbola tidak boleh hanya diukur dari jumlah pemain yang dihasilkan.

Kita juga harus bertanya Berapa banyak pelatih yang naik level?

Berapa banyak wasit yang mendapatkan pendidikan dan sertifikasi?

Berapa banyak pengawas pertandingan yang benar-benar profesional?

Berapa banyak klub yang sehat secara administrasi?

Berapa banyak kompetisi yang berjalan secara konsisten?

Berapa banyak pemain yang mendapatkan menit bermain berkualitas?

Itulah bagian dari pembangunan sepakbola yang sering tidak terlihat ketika kita hanya melihat Timnas bermain di televisi. (JANASVARA.COM/Bersambung)

Wahyudi Kurniawan
Mantan Ketua Askab PSSI Sleman 2017–2025
Mantan Waketum Asprov PSSI DIY 2019–2023

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *