Surana Imbau Lahan Kosong Dimanfaatkan untuk Tanaman Pangan

Sleman39 Dilihat
banner 468x60

SLEMAN, JANASVARA.COM – Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Sleman, Surana, mendorong agar lahan kosong di Bumi Sembada dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung program pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan. Menurut dia, pemanfaatan seluruh lahan produktif, khususnya untuk tanaman pangan, menjadi kunci penting dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.

Surana menjelaskan, konsep dasar pertanian berkelanjutan adalah memastikan tidak ada lahan subur yang dibiarkan mangkrak. Dikatakan, berbagai metode pertanian modern hingga tradisional dapat diterapkan di lahan kosong tersebut sesuai dengan kondisinya.

banner 336x280

“Jadi, fokus untuk pertanian berkelanjutan itu intinya semua lahan kosong tidak boleh beneran kosong. Artinya harus terisi dengan kegiatan pertanian, bisa menggunakan greenhouse, integrated farming, sawah tradisional, hingga penanaman buah-buahan,” jelas Surana.

Selain pemanfaatan lahan, Surana juga menyoroti pentingnya manajemen air agar aktivitas bertani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada musim hujan. Petani diharapkan tetap bisa berproduksi meski memasuki musim kemarau dengan pengelolaan air yang efektif dan efisien.

“Bertani itu tidak harus menunggu hujan. Mau hujan atau tidak, kegiatan pertanian tetap bisa berjalan asalkan bisa melakukan manajemen air dengan baik. Kalau musim kemarau, pengolahan air harus efektif. Di daerah saya, saat saluran irigasi mulai kering, petani menggunakan pompa air dan itu terbukti berhasil,” tuturnya.

Melalui penerapan manajemen air yang tepat, ia berharap para petani tradisional dapat teredukasi bahwa kegiatan bercocok tanam yang produktif tidak selalu membutuhkan pasokan air secara berlebihan.

Lebih lanjut, Surana menyebut, penerapan pertanian berkelanjutan di Bumi Sembada terus berkembang. Kendati demikian, ia menyayangkan masih banyaknya lahan subur terutama di tanah kas desa (TKD) yang belum dimanfaatkan secara optimal. Kebanyakan lahan tersebut dianggurkan atau seadar ditanami komoditas pohon kayu semisal sengon maupun tanaman hias.

“Sangat disayangkan jika lahan subur justru ditanami sengon atau pohon kayu tahunan yang tidak menghasilkan produk pangan. Karena itu kurang efektif dan tidak memberikan keuntungan optimal bagi petani. Terutama lahan-lahan kas desa, di daerah sini (Kapanewon Ngemplak) banyak tanah desa yang dianggurkan. Mungkin sekitar 50 persen digunakan untuk tanaman yang bukan produksi pangan,” papar dia.

Menurut Surana, tanah kas desa seharusnya dapat dialokasikan sebagai lahan produktif yang menyokong ketersediaan pangan bagi masyarakat Sleman. Dia pun mengaku telah menginisiasi pengelolaan Tanah Kas Desa seluas dua hektare di wilayahnya untuk ditanami berbagai komoditas hortikultura dan buah-buahan.

“Saya tidak hanya sekadar bicara. Saya mengelola dua hektare tanah desa yang ditanami kelengkeng dan semangka. Ini kan menghasilkan produk pangan yang bisa dikonsumsi dan bernilai ekonomi,” katanya.

Lebih lanjut, ia memaklumi jika area tanah kas desa yang berada di pinggir jalan utama dimanfaatkan untuk sektor komersial atau perdagangan. Namun untuk area bagian dalam yang subur, Surana mengimbau agar diprioritaskan penuh bagi sektor pertanian pangan. (Dewi Rukmini)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *