Siswa SDN Purwosari Sleman Belajar Bertani dan Beternak

Sleman32 Dilihat
banner 468x60

SLEMAN, JANASVARA.COM – Sekolah Dasar (SD) Negeri Purwosari, Sinduadi, Mlati, Sleman, mengembangkan pembelajaran berbasis ketahanan pangan bagi para siswanya. Melalui program tersebut, siswa tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga diajak mengenal praktik pertanian, peternakan, dan perikanan secara langsung.

Dalam kegiatan pertanian, sekolah memanfaatkan ratusan galon bekas sebagai media tanam untuk berbagai jenis sayuran. Para siswa dilibatkan dalam sejumlah tahapan, mulai dari penyemaian, penanaman hingga penyiraman tanaman.

banner 336x280

Selain bercocok tanam, siswa juga diperkenalkan dengan kegiatan beternak dan memelihara ikan. Berbagai aktivitas tersebut dilakukan secara mandiri oleh para murid dengan pendampingan dari guru.

Hasil pertanian, peternakan, dan perikanan selanjutnya dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan pembelajaran maupun dikonsumsi oleh siswa.

Kepala SDN Purwosari, Zaenuri, mengatakan program edukasi ketahanan pangan mulai dimasukkan dalam kurikulum pada tahun ajaran ini. Langkah tersebut menjadi bagian dari diversifikasi pembelajaran agar siswa mendapatkan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Kita menganggap pertanian, perikanan, peternakan merupakan bidang yang dibutuhkan anak di dunia nyata. Kami melihat ada kesenjangan anak belajar di dalam kelas,” jelas Zaenuri saat ditemui, Senin (5/10/2026).

“Di dalam kelas, anak hanya belajar terkait pengetahuan, tapi terkait keterampilan, sikap dan lain-lain itu kan masih minim. Sehingga kita memasukkan edukasi ketahanan pangan ini di kurikulum kita tahun ini,” imbuhnya.

Zaenuri yang menjabat sebagai kepala sekolah sejak April 2026 itu kemudian menggagas konsep integrated farming di lingkungan sekolah. Sebelum menjalankan program, pihak sekolah terlebih dahulu memetakan berbagai potensi dan persoalan yang ada di lingkungan sekolah untuk diolah menjadi bagian dari pembelajaran.

Salah satunya dengan memanfaatkan galon bekas, sampah daun, hingga sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Limbah tersebut diolah agar dapat memberikan manfaat dan mengurangi sampah yang dihasilkan sekolah.

“Nah dari kompos ini menghasilkan pupuk cair, kemudian lele kita memeliharanya pakai galon, ada limbah berkala yang kita gunakan penyiraman,” katanya.

“Kami memelihara unggas yang kita gunakan pupuk kandangnya. Nanti ternak digunakan untuk meningkatkan gizi anak, dan yang tidak terpakai pun untuk komposnya. Jadi berputar terus tanpa limbah,” imbuhnya.

Dalam pelaksanaannya, setiap kelas diberikan kesempatan untuk membudidayakan jenis sayuran yang berbeda. Dengan demikian, hasil panen antarkelas juga beragam.

Ketika memasuki masa panen, hasil tanaman tersebut dapat digunakan dalam kegiatan cooking class. Siswa tidak hanya memanen, tetapi juga belajar mengolah hasil pertanian, peternakan, dan perikanan yang mereka kembangkan sendiri.

“Setiap kelas bertani dengan berbagai sayur yang berbeda. Nanti saat panen tiba, ada yang panennya bersamaan, ada yang tidak, bisa dimanfaatkan untuk cooking class. Ada yang baru, ada yang setiap kelas programkan hasil sendiri, termasuk nanti ada lele dan unggas itu juga dimasak oleh siswa,” jelasnya.

Program tersebut juga dikaitkan dengan Pendidikan Khas Jogja. Sekolah berencana mengenalkan berbagai makanan khas Jogja kepada siswa dengan memanfaatkan bahan pangan yang tersedia dari hasil kegiatan ketahanan pangan.

“Ini kita kaitkan dalam Pendidikan Khas Jogja. Salah satunya memberikan pengetahuan terkait makanan khas Jogja, kita arahkan ke sana,” katanya.

Tak hanya untuk kebutuhan pembelajaran dan konsumsi, hasil panen juga dimanfaatkan sebagai hadiah dalam berbagai kegiatan sekolah. Zaenuri menyebut pihaknya mulai mengubah bentuk hadiah yang sebelumnya berupa alat tulis maupun jajanan menjadi sayuran hasil panen.

“Nah untuk hadiah lomba juga hasil panen banyak dihadiahkan untuk lomba. Jadi selama ini berupa alat tulis dan berupa jajanan, nah ini kita ubah. Anak bisa lebih menyenangi sayuran,” ujarnya.

Pemberian hasil panen sebagai hadiah diterapkan dalam sejumlah kegiatan, di antaranya perlombaan dalam rangka Hari Kemerdekaan, Maulid Nabi, hingga Hari Olahraga Nasional (Haornas).

Selain menjadi sarana edukasi ketahanan pangan, program tersebut juga diarahkan untuk mengenalkan kewirausahaan kepada siswa. Sekolah berencana mengintegrasikan kegiatan tersebut dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Melalui pembelajaran TIK, siswa akan dibimbing membuat materi promosi secara daring untuk mengenalkan hasil pertanian maupun produk yang dihasilkan dari kegiatan sekolah. Materi tersebut nantinya dapat dipublikasikan melalui media sosial masing-masing siswa.

“Untuk kewirausahaan kita integrasikan dengan TIK, di mana nanti guru TIK membimbing anak untuk desain iklan online. Nanti hasil iklan online itu disebarluaskan lewat medsos anak sendiri-sendiri sehingga nanti akan melatih. Ada juga offline,” katanya. (Hadid Panegstu)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *