Siswa dan Tendik Diduga Keracunan Usai Santap MBG, SPPG Berhenti Sementara

Breaking News23 Dilihat
banner 468x60

SLEMAN, JANASVARA.COM– Sejumlah siswa dan tenaga pendidik (tendik) dari beberapa sekolah di Kapanewon Sleman mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Peristiwa tersebut dialami penerima manfaat dari jenjang TK, SD hingga SMA. Gejala mulai dirasakan setelah mereka menyantap menu MBG yang dibagikan pada Senin (31/8/2026).

Panewu Sleman Rohmiyanto mengatakan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyediakan makanan tersebut untuk sementara waktu tidak beroperasi setelah muncul laporan adanya penerima manfaat yang mengalami gejala keracunan. Menurut Rohmiyanto, informasi tersebut pertama kali diterima dari Koordinator Wilayah (Korwil) Badan Gizi Nasional (BGN) di Kapanewon Sleman. “Sebenarnya penerima manfaat ada banyak, tapi yang laporan itu SD Nyaen 2, kalau rawat jalan,” ujar Rohmiyanto saat dihubungi wartawan, Rabu (3/9/2026).

banner 336x280

Ia menjelaskan, berdasarkan pendataan melalui Google Form, sebagian penerima manfaat hanya mengalami gejala ringan dan tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar. “Kalau yang lain tracking Google Form memang bergejala ringan tapi tetap sekolah. Kemudian yang satu TK Keluarga masih di wilayah sekitar situ juga, cuma dua siswa. Itu ringan dan tetap bersekolah,” katanya.

Khusus di SD Nyaen, pemerintah kapanewon melakukan pendataan melalui formulir daring. Dari data sementara, terdapat 27 siswa yang mengalami gejala ringan serta satu orang tendik.
Selain itu, laporan serupa juga ditemukan pada sejumlah siswa di SMAN 2 Sleman dan SMK YPKK. Namun, kondisi mereka disebut masih tergolong ringan.

“Kalau yang itu (SMA) hanya gejala ringan, tidak rawat jalan dan rawat inap. Kami minta ke puskesmas untuk memantau perkembangan,” jelasnya.

Rohmiyanto menambahkan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman telah mengambil dan memeriksa sampel makanan yang dikonsumsi para penerima manfaat. Hingga kini, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan untuk mengetahui penyebab pasti munculnya gejala tersebut.

Ia menyebut kejadian ini menjadi kasus pertama selama dirinya menjabat sebagai Panewu Sleman. Di wilayah Kapanewon Sleman sendiri terdapat sekitar 10 SPPG yang beroperasi. Seluruhnya dikoordinasikan melalui Korwil BGN setempat.

“Ada korwilnya dan itu saling komunikasi. Ketika ada masalah, larinya ke Korwil SPPG kapanewon. Mereka tidak menyembunyikan fakta kalau ada kejadian, diinformasikan ke kita, termasuk kronologisnya,” ujarnya.

Terkait biaya pengobatan bagi siswa maupun tendik yang menjalani rawat jalan atau rawat inap, Rohmiyanto mengatakan pembiayaan tersebut akan ditanggung oleh BGN. “Kalau pembiayaan dicover, karena itu dilaporkan secara berjenjang dari BGN. Informasi dari satgas seperti itu,” katanya.

Ia membandingkan penanganan kasus tersebut dengan kejadian sebelumnya di Kapanewon Mlati. Jika kasus di Mlati ditanggung oleh pemerintah kabupaten, untuk kasus kali ini pembiayaan akan ditangani BGN melalui mekanisme pelaporan berjenjang.

“Kalau dulu kasus di Kapanewon Mlati dicover kabupaten, kalau ini karena laporan berjenjang, nanti informasi dari korwilnya, BGN yang akan meng-cover,” tuturnya.
Rohmiyanto berharap penanganan terhadap penerima manfaat yang mengalami gejala segera diselesaikan dan kejadian serupa tidak kembali terjadi. (Hadid Pangestu)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *