Ribuan Warga Tumpah Ruah Saksikan Prosesi Kondur Gangsa di Masjid Gedhe Kauman

Sleman32 Dilihat
banner 468x60

JOGJA, JANASVARA.COM – Ribuan orang tumpah ruah di kawasan Masjid Gedhe Kauman Jogja saat prosesi Kondur Gangsa pada Selasa (25/8/2026). Prosesi Kondur Gangsa itu menjadi penanda berakhirnya rangkaian Hajad Dalem Perayaan Sekaten Keraton Jogja.

Ribuan orang itu tampak antusias menghadiri momen sakral pengembalian gamelan pusaka Kyai Naga Wilaga dan Kyai Guntur Madu dari Masjid Gedhe Kauman ke dalam Keraton Jogja.

banner 336x280

Prosesi itu diawali dengan pembagian udhik-udhik oleh Raja Keraton Jogja, Sri Sultan HB X. Udhik-udhik yang terbuat dari campuran uang logam, kelopak bunga, beras, dan biji-bijian tersebut dibagikan dari Pagongan Kidul, lokasi bersemayamnya Gamelan Kyai Guntur Madu, dan Pagongan Lor lokasi Gamelan Kyai Naga Wilaga berada.

Udhik-udhik dibagikan secara bertahap kepada para Wiyaga terlebih dahulu. Kemudian membagikan udhik-udhik untuk warga masyarakat dan terakhir kepada para Abdi Dalem urusan keagamaan di dalam Masjid Gedhe. Penyebaran udhik-udhik tersebut menjadi simbol sedekah, doa keselamatan, dan kesejahteraan dari raja kepada rakyatnya.

Setelah itu, Sri Sultan HB X mengikuti kegiatan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW di dalam Masjid Gedhe Kauman. Sekitar pukul 22.00 WIB, agenda berlanjut dengan prosesi Kondur Gangsa. Dua gamelan pusaka Keraton Jogja itu dikembalikan dengan dikirab dan mendapat pengawalan dari prajurit Bregada Keraton.

​Prosesi puncak yang berlangsung hingga larut malam tersebut menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat, baik kawula muda maupun para orang tua yang membawa serta anggota keluarga mereka. Meskipun tradisi inti keagamaan dan kebudayaan berjalan penuh keagungan, namun kerinduan akan nuansa kemeriahan Sekaten era terdahulu tetap terpancar dari sudut pandang warga yang hadir, seperti yang dirasakan Nur Septiadi (36).

Warga Kota Jogja itu menilai perubahan format penyelenggaraan Sekaten tanpa arena hiburan rakyat cukup mengurangi tingkat kemeriahan masyarakat umum. Dia pun merasa iba kepada anak-anak masa kini yang tidak lagi meraskaan atmosfer pasar malam Sekaten di Alun-alun Utara Jogja.

​”Dulu waktu kecil saya pernah merasakan ada pasar malam yang sangat heboh dan ramai. Sekarang kemeriahannya berkurang jauh. Sebagai warga, harapannya mungkin pasar malam bisa dihidupkan kembali sebagai pendamping tradisi, namun tentu dengan tata kelola dan penataan yang lebih tertib,” ucap Nur, Selasa (25/8/2026).

Meski begitu, Nur tetap menantikan rangkaian gelaran Hajad Dalem Sekaten Keraton Jogja untuk memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW. Dia mengaku rutin menghadiri prosesi Mandhap Gangsa hingga Kondur Gangsa dengan membawa serta putrinya untuk mengenalkan akar budaya daerah sejak dini.

​”Saya asli Jogja, jadi kalau bisa anak-anak juga harus tahu budayanya. Kami menunggu semua prosesinya, mulai dari pembagian udhik-udhik sampai kembalinya gamelan. Memang rasanya tergerak dari hati untuk selalu hadir tiap tahun,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Hanif (22), warga Kotagede, Kondur Gangsa merupakan ajang untuk meluruskan pemahaman sejarah mengenai hakikat perayaan Sekaten. Dia mengaku sengaja datang sejak pukul 20.00 WIB dengan niat untuk menyaksikan prosesi budaya tersebut.

​”Saya melihat momen ini sebagai pelestarian budaya. Karena ini acara rutin Keraton Jogja setiap tahun. Di sisi lain, ini menjadi wadah edukasi agar masyarakat tahu bahwa Sekaten yang asli adalah ritual kebudayaan ini, bukan sekadar pasar malam. Harapannya informasi dan penyebaran media ke depan bisa lebih luas dan tepat sasaran ke generasi muda,” tutupnya.(Dewi Rukmini)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *