Pengangguran Bisa Picu Masalah Sosial

Sleman27 Dilihat
banner 468x60

SLEMAN, JANASVARA.COM – Pengangguran jika tidak ditangani secara serius maka akan berisiko memicu masalah sosial baru yang lebih kompleks. Selain meningkatkan potensi kriminalitas, pengangguran usia muda kini juga rentan terjerat iming-iming judi online (judol) yang bakal mempengaruhi kualitas perekonomian keluarga ke depan.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Wawan Widiantoro, dalam acara Talkshow Sleman Bertumbuh dengan tema SDM Sleman Siap Kerja, Kompeten, dan Berdaya Saing, pada Rabu (23/9/2026) di Arkamaya Kusuma Resort, Gamping, Sleman. Talkshow ini juga menghadirkan Anggota DPRD Sleman, Budi Sunyata.

banner 336x280

Untuk menanggulangi hal tersebut, Wawan mengatakan, Pemkab Sleman melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) dan Dinas Sosial menyediakan berbagai pelatihan keahlian. Masyarakat, tanpa batasan usia maupun latar belakang pendidikan didorong untuk mengasah keahlian (update skill) di Balai Latihan Kerja (BLK) yang menyediakan 11 kejuruan, mulai dari teknik otomotif, elektronika, pemasaran, hingga tata boga.

“Belajar itu tidak ada batas umur. Yang penting ada minat dan mau meningkatkan skill. Kalau sekolahnya dulu jurusan otomotif tapi ingin belajar tata boga untuk buka usaha, bisa mengajukan pelatihan di BLK,” ujarnya.

Wawan membeberkan, peluang penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Sleman sebenarnya sangat besar. Mengingat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sleman merupakan yang tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yakni mencapai 6,53 persen.

“Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Insyaallah memberikan jumlah lapangan kerja yang lebih banyak. Jangan sampai lowongan yang banyak justru diisi warga luar daerah karena warga lokalnya kurang keahlian. Kesempatan itu harus dipakai,” tegasnya.

Sleman Pintar
Wawan tak menampik bahwa setiap daerah memiliki dinamika, permasalahan, dan kebutuhan masing-masing. Oleh karena itu, Pemkab Sleman melalui masing-masing OPD (organisasi perangkat daerah) telah melakukan pemetaan untuk mengidentifikasi permasalahan dan mencarikan solusinya, terutama untuk menangani angka pengangguran. Salah satu Langkah konkret yang dilakukan Pemkab Sleman melalui Dinsos Sleman yakni menghadirkan program beasiswa Sleman Pintar untuk anak-anak berprestasi dari keluarga miskin atau pra-sejahtera. Sebanyak 130 siswa lulusan SMA/SMK dari keluarga miskin telah diberikan kesempatan untuk menimba ilmu di perguruan tinggi.

Bahkan sejak 2025, program itu dikembangkan menjadi Sleman Pintar Plus Plus berkat kerja sama dengan perguruan tinggi dan ratusan perusahaan. Lewat skema itu, mahasiswa berkuliah selama dua tahun di kampus dan dilanjutkan magang di perusahaan selama 1,5 tahun.

“Bupati Sleman bahkan telah mengundang 100 pengusaha dan 100 perusahaan se-DIY untuk memperkuat komitmen magang ini. Peserta magang tidak hanya mendapatkan pengalaman kerja, tetapi juga insentif uang saku. Bahkan ada yang mencapai UMR Karawang sebesar Rp6,1 juta per bulan. Setelah lulus, mereka mengantongi ijazah sekaligus surat pengalaman kerja, dan banyak yang langsung diangkat menjadi karyawan tetap,” bebernya.

Tak hanya menyiapkan tenaga kerja terampil di industri, Pemkab Sleman juga memfasilitasi generasi muda yang berminat menjadi wirausahawan mandiri melalui program PEDAS (Pejuang Ekonomi Muda Sleman). Lewat program itu, Bupati dan Wakil Bupati Sleman memberikan bantuan permodalan dan pendampingan usaha bagi anak-anak muda yang lolos tahapan seleksi serta kompetisi bisnis.

Pembangunan SDM
Budi Sunyata, menegaskan bahwa legislatif bersama Pemkab Sleman secara serius mengalokasikan anggaran pembangunan SDM sejak siklus hidup awal hingga lansia. Menurutnya, persoalan pengangguran di Sleman juga dipengaruhi oleh faktor pemilih pekerjaan (pilih-pilih), sehingga edukasi serta peningkatan nilai tawar tenaga kerja menjadi kunci utama.

“Pemerintah dan DPRD Sleman merancang alokasi anggaran pembangunan SDM yang berkelanjutan sejak dari usia sekolah, calon pengantin, hingga lansia. Pendidikan adalah solusi utama memutus rantai kemiskinan karena mengasah pola pikir warga agar mampu melihat peluang ekonomi,” ujar Budi Sunyata.

Ia mengungkapkan, salah satu kekuatan ekonomi Sleman terletak pada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang kini berjumlah sekitar 111.000 unit. Sektor itu menjadi penyerap tenaga kerja yang sangat signifikan di tingkat lokal.

“Jika satu UMKM saja mempekerjakan empat orang, bayangkan berapa ratus ribu warga yang terserap. Karena itu, Pemkab Sleman selalu memprioritaskan warga lokal dalam pembinaan kewirausahaan dan pelatihan ekonomi kreatif. Meski perputaran ekonomi dan kesempatan mencari rezeki di Sleman terbuka luas bagi siapa saja,” jelas dia.

Selain UMKM, sektor ekonomi kreatif di Sleman juga didukung keberadaan 32 kampus dan 54 hotel. Keberadaan institusi itu turut dimanfaatkan untuk merancang skema gotong royong dan pendampingan pembangunan potensi wilayah melalui mekanisme Pola Pendampingan Usulan Partisipasi Masyarakat (PPU-PM).

Tak hanya itu, pembangunan SDM inklusif di Kabupaten Sleman turut menyentuh kelompok usia non-produktif melalui pembentukan Sekolah Lansia, guna mendukung aktualisasi diri dan kemandirian lansia. Langkah itu sejalan dengan tingginya Angka Harapan Hidup (AHH) di Sleman yang mencapai lebih dari 74 tahun.

“Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Sleman saat ini sudah mencapai 86,7. Angka itu sangat tinggi untuk tingkat kabupaten di Indonesia, membuktikan bahwa SDM di Sleman sudah kompeten dan berdaya saing,” tutupnya.(Dewi Rukmini)

 

 

 

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *