Pemetaan Jalan Sirip Malioboro Selesai, Ini Catatannya

Berita32 Dilihat

JOGJA, JANASVARA,com –Pemerintah Kota ( Pemkot) Jogja telah merampungkan pemetaan terhadap 10 jalan sirip di sekitar kawasan Malioboro. Pemetaan tersebut mencakup pendataan pedagang, pedagang asongan, jumlah gerobak, titik parkir, hingga keberadaan toko, dan hotel.

Walikota Jogja Hasto Wardoyo, mengatakan, pemetaan ini merupakan bagian dari upaya untuk mewujudkan Malioboro menjadi kawasan pejalan kaki penuh (full pedestrian) pada akhir November 2026. “Dari pemetaan itu, kami pertajam satu per satu problem di setiap sirip seandainya nanti ditutup. Tentu penutupannya tidak dilakukan serentak, tetapi dipelajari satu per satu. Mana yang sudah ada solusinya, itu yang diuji coba terlebih dahulu,” ucap Hasto.

Berdasarkan hasil pemetaan, Hasto menyebut ada sejumlah masalah krusial di jalan-jalan sirip itu. Di antaranya terkait aksesibilitas dan ketersediaan lahan parkir serta tempat putar balik.  “Masalah paling besar adalah kalau sirip itu tidak ada tempat parkir dan tidak ada tempat putar balik. Ada juga sirip yang tidak ada tembusannya,” ujarnya.

Menurut Hasto, jalan yang tidak ada tembusannya itu berasa di sirip Sosrokusuman. Berbeda dengan jalan lain, akses kendaraan di sirip Sosrokusuman ke arah timur atau Jalan Mataram sangat sempit dan hanya diisi pertokoan. Sehingga keluar-masuk kendaraan hanya bisa diakses melalui Jalan Malioboro.

​”Di Sosrokusuman ada satu RW yang warganya banyak memiliki mobil. Jika sirip itu ditutup total, mereka tidak punya akses keluar. Ini kasus sulit, sehingga pasti akan ada pengecualian-pengecualian yang realistis,” tuturnya.

Selain itu, juga banyak sirip yang minim tersedia ruang parkir dan area bagi kendaraan untuk memutar balik jika jalan utama Malioboro nantinya ditutup total. Oleh karena itu, pihaknya mengidentifikasi kendala di masing-masing sirip guna mencari solusi praktis, terutama terkait alternatif parkir.

Saat ini, Hasto tengah mengajukan usulan terkait solusi jalan pintas untuk mengurai potensi kemacetan dan keterisolasian akses warga di sisi barat dan timur Malioboro. Adapun, usulan yang diajukan Pemkot Jogja  yakni pembukaan jalur penyeberangan langsung yang menghubungkan Jalan Pajeksan dengan Jalan Suryatmajan.

“Proposal usulan saya adalah memasang traffic light (lampu lalu lintas) di titik persimpangan itu. Jadi kendaraan dari barat bisa langsung menyeberang ke timur, begitu pula sebaliknya. Karena membuat jalan bawah tanah (underpass) atau jembatan penyeberangan tidak diperbolehkan di kawasan itu. Jadi jalan terobosan ini jadi solusi paling realistis,” jelas Hasto.

Pihaknya mengaku masih terus berkoordinasi dengan pihak swasta untuk penyediaan kantong parkir alternatif di sekitar sirip, sembari menunggu persetujuan proposal penataan lalu lintas tersebut dari Pemerintah Provinsi DIY. (Dewi Rukmini)