Pakar UGM: Erupsi Enam Gunung Api Tidak Terkait Teori Konspirasi

Kota Jogja26 Dilihat
banner 468x60

SLEMAN, JANASVARA.COM – Pernyataan Ahli Utama Staf Kepresidenan (KSP) Ulta Levenia Nababan yang mengaitkan erupsi enam gunung api dengan teori konspirasi pihak-pihak yang tidak sejalan dengan pemerintah mendapat bantahan dari pakar Vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Pakar Vulkanologi Fakultas Geografi UGM, Prof. Harijoko, menegaskan bahwa erupsi sejumlah gunung api aktif tersebut merupakan proses geologi yang terjadi secara alami.

banner 336x280

Menurut dia, aktivitas erupsi terjadi ketika tekanan di dalam dapur magma meningkat hingga mencapai kondisi tertentu yang kemudian memicu keluarnya material vulkanik ke permukaan.

“Jadi tidak ada kaitannya dengan teknologi frekuensi atau apa itu. Belum ada buktinya kalau mau dikatakan seperti itu. Jadi tetap saja kalau saya masih percaya bahwa itu adalah proses alami, proses geologi,” ujar Harijoko.

Ia menilai kemunculan erupsi pada sejumlah gunung api dalam waktu yang berdekatan sangat mungkin terjadi secara alamiah. Karena itu, tidak terdapat dasar untuk menyimpulkan adanya campur tangan manusia dalam aktivitas erupsi tersebut.

“Statement seperti teori konspirasi seperti mungkin latar belakang beliau dari teori studi teror, ya, sehingga apakah terkait dengan itu? Tetapi sebenarnya secara natural, secara alami, ada gunung api,” imbuhnya.

Anak Krakatau

Dalam kesempatan tersebut, Harijoko juga menyoroti aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kemungkinan terjadinya erupsi besar seperti yang pernah terjadi pada 1883.

Ia menjelaskan bahwa tipe maupun kekuatan erupsi gunung api sangat dipengaruhi oleh karakteristik magma yang berada di dalam dapur magma.

Menurutnya, karakter magma yang memicu erupsi Krakatau pada 1883 berbeda dengan magma yang dikeluarkan Gunung Anak Krakatau dalam sekitar tiga dekade terakhir.

“Jenis magma untuk erupsi 1883 itu sangat berbeda dengan magma yang dierupsikan bahkan di 30 tahun terakhir ini. Magma di 1883 itu mempunyai 70 persen kandungan, sedangkan magma yang dierupsikan di 30 tahun terakhir ini masih cukup rendah, sekitar 55 persen,” jelasnya.

Perbedaan tersebut, kata Harijoko, turut memengaruhi potensi dan tipe erupsi yang terjadi. Aktivitas Gunung Anak Krakatau dalam 30 tahun terakhir tercatat memiliki Volcanic Explosivity Index (VEI) atau Indeks Eksplosivitas Vulkanik pada kisaran 1 hingga 3.

Tingkat tersebut relatif rendah jika dibandingkan dengan karakter erupsi Krakatau pada 1883. Menurutnya, kondisi tersebut juga berkaitan dengan kandungan magma yang lebih rendah.

“Jadi secara potensi tipe erupsinya tentunya akan berbeda. Itu bisa dilihat juga dari erupsinya. Jadi 30 tahun terakhir ini erupsinya mempunyai VEI atau indeks eksplosivitas vulkanik 1 sampai 3. Ini relatif rendah,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, Harijoko menilai potensi terjadinya erupsi dengan karakter seperti 1883 dalam kondisi saat ini masih cukup jauh.

Terus Terbangun

Harijoko juga menjelaskan proses terbentuknya tubuh Gunung Anak Krakatau yang terus mengalami perubahan akibat aktivitas erupsi.

Menurutnya, erupsi dengan VEI 1 hingga 3 cenderung menghasilkan lontaran material vulkanik yang bersifat lokal. Material tersebut kemudian menumpuk di sekitar pusat erupsi sehingga secara perlahan membentuk dan memperbesar tubuh gunung api.

“Karena erupsinya bisa dikatakan VEI 1-3, sehingga lontarannya juga lokal. Lokal sehingga dia akan menumpuk di sekitar pusat erupsinya, sehingga morfologinya kemudian terbangun,” jelasnya.

Namun, kondisi lokasi berdirinya Anak Krakatau menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian. Berdasarkan sejumlah studi, Anak Krakatau berdiri di bagian tepi kaldera yang terbentuk akibat erupsi besar Krakatau pada 1883.

Kondisi tersebut membuat struktur geologi di sekitar tubuh gunung api tidak sepenuhnya berupa dataran yang stabil.

“Kalau dari studi yang sudah dilakukan, ternyata Gunung Api Anak Krakatau itu berdiri di atas tepi kaldera dari erupsi 1883. Sehingga mungkin di bawah itu bukan suatu dataran yang stabil,” ujarnya.

Harijoko menjelaskan, keberadaan tebing kaldera yang relatif terjal juga berpotensi memengaruhi kestabilan tubuh Anak Krakatau. Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya longsoran pada 2018.

“Biasanya karena kaldera itu mesti ada tebing yang cukup terjal. Nah, kemungkinan itu yang juga menyebabkan mudahnya longsor seperti di 2018,” pungkasnya. (Hadid Pangestu)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *