Komunitas Wayang Merdeka Kenalkan Tradisi ke Generasi Muda

Sleman21 Dilihat
banner 468x60

JOGJA, JANASVARA.COM – Berangkat dari kekhawatiran anak-anak muda semakin jauh dari kebudayaan bangsa sendiri, sejumlah perupa di Jogja menginisiasi komunitas Wayang Merdeka. Komunitas yang lahir pada 2022 itu menjadi ruang eksperimen kreatif yang mengajak generasi muda untuk kembali mengenali serta mencintai tradisi wayang melalui pendekatan lebih menyenangkan.

Sesuai namanya, Wayang Merdeka menawarkan kebebasan penuh kepada anak-anak untuk merealisasikan imajinasinya dalam bentuk wayang. Anak-anak diajak bereksperimen menciptakan berbagai bentuk, tokoh, dan naskah cerita wayang versi mereka sendiri. Langkah tersebut pun menghantarkan Wayang Merdeka melanglang buana ke Lombok, Sumatera, bahkan pernah tampil selama sepekan di National Gallery Singapore.

banner 336x280

Ketua Wayang Merdeka, Miko Jatmiko, menuturkan bahwa awalnya ada rasa prihatin ketika melihat generasi muda tak lagi mencintai wayang. Fenomena itu kian ironis ketika menyaksikan justru warga asing yang antusias datang ke Tanah Air untuk belajar menjadi dalang.

“Lalu saya dan teman-teman perupa merasa khawatir, bagaimana jati diri bangsa ke depan. Apalagi, justru orang asing yang belajar agar jadi dalang, bahkan ada teman saya orang Ceko jadi dosen gamelan di National University Singapore. Maka kami sepakat mendirikan Wayang Merdeka pada Februari 2022,” papar Miko saat ditemui dalam Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) Kota Jogja 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan, Senin (14/9/2026).

Komunitas Wayang Merdeka itu hadir membawa misi sederhana, mengenalkan kembali wayang kepada generasi penerus bangsa dengan cara menyenangkan. Pendekatan yang mereka gunakan juga jauh dari kata kaku. Mereka menyesuaikan pengenalan wayang dengan hal favorit anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.

“Anak kecil kalau langsung dikasih wayang tradisi atau pakem kadang takut dan bingung. Jadi kami tanya kesukaan mereka. Misalnya suka makan pisang, ya bikin wayang pisang. Suka lele, maka bikin wayang lele. Jadi mereka merdeka (bebas) membentuk, cara memainkan, dan membangun ceritanya. Lalu kalau merdeka banget berarti main-main, memang main-main kan untuk anak. Mengenalkan wayang kepada anak-anak dengan main-main, jadi tidak ada beban,” jelas Miko.

Tak hanya soal budaya, komunitas itu juga mengenalkan anak-anak untuk peduli terhadap lingkungan sekitar. Sebab, seluruh wayang yang dibuat memanfaatkan limbah sampah di sekitar, semisal kardus bekas. Lewat metode itu, anak-anak diajak sadar lingkungan sekaligus mengasah kreativitas sejak dini.

“Ada tiga hal penting yang kami angkat, pertama the next generation (generasi selanjutnya), pengenalan persoalan lingkungan lewat sampah. Lalu, tentang kreativitas from nothing to something atau mengubah dari sampah menjadi sesuatu yang bernilai,” ujarnya.

Guna menjaga kelestarian budaya tersebut, Wayang Merdeka rutin menggelar workshop gratis di sejumlah kampung wilayah DIY setiap bulannya. Di sisi lain, mereka juga aktif memenuhi undangan berbagi ilmu di berbagai kampus dan lembaga seni.

Perjalanan hampir empat tahun mengasuh komunitas ini membuahkan pengalaman yang mengharukan bagi Miko. Saat mengisi acara di Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) beberapa waktu lalu, ia mendapati puluhan anak kecil dengan bangga bercita-cita ingin menjadi dalang dan pembuat wayang saat dewasa.

Bagi Miko, ruang kreasi itu menjadi bentuk nyata dari upaya national character building , sebuah gagasan besar pembangunan karakter bangsa yang pernah dicetuskan oleh Bung Karno. Lantaran, melalui media wayang anak-anak diajak mengenali nilai-nilai kebaikan dan keburukan secara alami sejak usia dini.

“Harapan kami ke depan adalah akan berdiri TK Wayang Merdeka. Jadi basiknya adalah kultural, tradisi, dan nasionalisme,” harapnya. (Dewi Rukmini)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *