Ibu-Anak di Jogja Ubah Kimpul jadi Kudapan Kekinian

Kota Jogja34 Dilihat

JOGJA, JANASVARA.COM – Tren kuliner masa kini di media sosial berhasil mendorong kreativitas pelaku UMKM di Kota Jogja untuk mengangkat kembali bahan pangan lokal yang kurang populer. Siapa sangka umbi kimpul yang kerap dipandang sebelah mata, kini bisa berpenampilan ala kudapan viral modern. Dari tangan pasangan ibu dan anak di Jogja, komoditas pangan lokal itu disulap menjadi jajanan kekinian yang tengah digandungi anak muda, yakni Es Krim Gabin dan Kimpul Chewy Cookie.

Mereka adalah Murwanti (55) dan Arni (24), Ibu-anak yang berhasil membuat umbi kimpul naik kelas. Kreasi kudapan tersebut mereka jajakan dalam gelaran Festival Pariwisata Kuliner Mustika Rasa di Alun-alun Selatan, Kota Jogja, DIY, Minggu (30/8/2026). Murwanti mengatakan, ide kreasi umbi kimpul menjadi chewy cookie dan es krim gabin datang dari putrinya (Arni) yang terinspirasi dari tren kuliner Tiktok. Rasa penasaran itu semakin kuat ketika melihat kondisi kimpul di daerah asal Murwanti di Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, DIY.
Di sana, kimpul sangat melimpah tetapi kurang dimanfaatkan. Harga kimpul sangat murah sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000 per kilogram. Bahkan, seringkali umbi tersebut tak laku dan berakhir jadi makanan ternak.

“Di desa asal saya, kimpul sangat melimpah dan harganya murah, bahkan tidak laku dijual. Dari situ kami mikir kok sayang (percuma) sekali. Akhirnya, dari lihat Tiktok kami mencoba berkreasi,” ucap Murwanti kepada Janasvara.com, Minggu (30/8/2026).

Kolaborasi ibu dan anak itupun dimulai. Sang anak bertugas meriset tren pasar, mencari resep, hingga menentukan konsep kemasan. Sementara sang ibu berperan mengeksekusi olahan bahan utama di dapur.

Namun, mengubah umbi berlendir menjadi kudapan bernilai jual tinggi rupanya membutuhkan perjuangan ekstra di dapur. Murwanti mengungkapkan, telah berulang kali mencoba berbagai teknik untuk menemukan formula yang pas. Dia pun harus melewati serangkaian kegagalan untuk menaklukkan tekstur kimpul yang bergetah dan lengket, agar bisa dikreasikan menjadi makanan kekinian.

“Hampir tiap hari kami mencoba karena bahannya melimpah. Kalau gagal, kami sisihkan terus ambil lagi. Hingga kami dapat formula yang pas. Ini pun kami merasa belum pas sekali, karena menurut saya kadang Kimpul Chewy Cookie masih basah. Sedangkan kami inginnya yang kering, tapi kalau kering murni dari kimpul tidak bisa, karena akan pecah,” jelasnya.

Oleh karena itu, dia menambahkan sedikit tepung ketan agar adonan tidak mudah pecah ketika dibentuk bulat. Sementara di dalamnya diberi isi Kunafa Pistachio ala cokelat Dubai.
Murwanti menjelaskan bahwa kimpul harus dikukus selama 30 menit sebelum diolah menjadi chewy cookie. Kemudian, kimpul kukus harus ditumbuk dua kali dalam keadaan masih hangat dan diuleni bersama sedikit tepung ketan agar adonan menyatu sempurna tanpa mudah pecah saat dikeringkan.

Arni menambahkan, dalam mengolah kimpul itu mereka berupaya menyatukan cita rasa lokal dengan tren kuliner modern. Berulang kali mereka mencoba dan menyesuaikan resep, hingga akhirnya menemukan formula rasa yang pas.

“Kalau kimpul chewy cookie ini di dalamnya ada Kunafa Pistachio sama kayak cokelat Dubai, cuma yang beda tuh luarnya. Menurut saya sih mirip sama getuk, tapi dikemas lebih masa kini. Jadi kayak getuk isinya Dubai Pistachio,” jelas Arni.

Sedangkan untuk es krim gabin, Arni mengkreasikan kimpul sebagai toping yang dicampur cokelat. Es krim gabin sendiri, dia terinsipasi dari kuliner asal Bandung yang jarang ditemukan di Jogja.

“Orang kan masih asing sama rasa kimpul, jadi gimana caranya biar orang tetap mau nyobain. Kami kombinasikan sama rasa cokelat. Jadi lebih dominan rasa cokelatnya, tapi ada topping kimpul utuh di tengah-tengahnya, bukan yang diblender,” tambahnya.

Usaha yang dijalani Arni bersama ibunya itu menjadi sarana mengisi waktu luang di tengah kesibukannya menempuh pendidikan S2 di UGM. Arni bahkan telah memasarkan kudapan unik tersebut setiap Minggu pagi di kawasan Sunday Morning (Sunmor) UGM dalam dua bulan terakhir.

“Awalnya cuma jual sedikit sekitar 20-an dari sisa bahan di rumah. Minggu depannya kami tambah dua kali lipat, ternyata masih banyak juga peminatnya dan selalu habis. Kadang orang juga pesan dulu lewat WhatsApp, ‘Kak, dititip dong jangan dijual dulu,’ nanti tinggal diambil. Saya selalu buat fresh mulai pukul 03.00 WIB sebelum dijual pada Minggu pagi,” tandasnya. (Dewi Rukmini)