Gara-gara Monyet, Warga Kaliurang Timur Kelola Sampah Mandiri

Ekbis17 Dilihat
banner 468x60

SLEMAN, JANASVARA.COM – Penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan yang sempat memicu krisis sampah di DIY justru menjadi titik balik bagi warga Padukuhan Kaliurang Timur, Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, untuk mengelola sampahnya. Ditutupnya TPA Piyungan membuat sampah di kawasan wisata Kaliurang menumpuk. Bahkan sampah yang tidak terangkut tersebut menjadi tempat bagi monyet-monyet yang banyak berkeliaran di kawasan tersebut untuk mencari makan. Tak jarang, sampah plastik yang diambil monyet dibuang sembarangan,

Bermula dari persoalan tumpukan sampah di kawasan wisata tersebut, warga kini berhasil mengembangkan sistem pengolahan sampah mandiri berbasis budidaya maggot dan peternakan ayam petelur. Dukuh Kaliurang Timur, Anggara Daniawan, mengungkapkan bahwa persoalan sampah kala itu tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga memicu gangguan dari satwa liar. Sebab, tumpukan sampah yang tak terangkut kerap diacak-acak oleh kawanan monyet dari hutan Merapi. Mengingat Kaliurang merupakan kawasan wisata, tumpukan sampah juga menjadi masalah serius karena menimbulkan bau tak sedap.

banner 336x280

Berawal dari keprihatinan itu, warga setempat pun mendapatkan pendampingan untuk mengelola sampah mandiri. Melalui pendekatan pengolahan sampah organik berbasis rumah tangga, warga diajak memilah sampah sejak dari dapur. “Jadi ini sudah memasuki tahun kedua [pengelolaan sampah mandiri]. Kami berawal dari satu masalah berupa [TPA] Piyungan ditutup. Karena kami di daerah wisata, sampah yang menumpuk memancing monyet datang dan mengacak-acak sampah sampai ke sungai. Setelah didampingi, kami mulai memilah sampah. Sampah organik dimanfaatkan untuk budidaya maggot, lalu maggotnya dijadikan pakan ternak lele dan ayam Elba, sedangkan sisa kasgotnya (bekas maggot) dijadikan pupuk tanaman,” jelas Angga, saat berbincang dalam program Jejak Lingkungan di Taman Cengkrama Kaliurang bersama Wakil Ketua DPDR Sleman Ani Martanti dan Plt Panewu Pakem, Y. Purnama Kristiawan, Selasa (25/8/2026).

Dia menuturkan, awalnya pengolahan sampah rumah tangga hanya berfokus pada pakan maggot. Namun, karena nilai ekonomis maggot segar terbilang cukup rendah hanya sekitar Rp10 ribu per kilogram. Warga pun sempat kehilangan motivasi karena tidak sebanding dengan biaya operasional pengumpulan sampah.

Ayam Elba
Untuk menyiasati hal tersebut, kelompok warga mulai memadukan budidaya maggot dengan peternakan ayam petelur jenis Elba. Skema integrasi itu memanfaatkan sampah organik rumah tangga sebagai pakan maggot, yang kemudian dijadikan pakan utama bagi ayam petelur.

Langkah tersebut pun berhasil menekan biaya operasional peternakan hingga titik nol. Pakan ayam tidak lagi dibeli secara komersial, melainkan murni memanfaatkan sampah organik rumah tangga dan maggot.

“Ternak ayam Elba ini murni nol pengeluaran untuk pakan. Sampah rumah tangga yang terurai diberikan ke maggot, maggotnya dimakan ayam, lalu telurnya kami jual. Sampah yang tidak terurai maggot diolah menjadi kompos,” papar dia.

Cara tersebut juga efektif menyelesaikan masalah sampah organik rumah tangga di Padukuhan Kaliurang Timur. Sebab, dalam sehari ada sekitar 30-40 kg volume sampah basah yang sudah terselesaikan di tingkat bawah.

Kini, padukuhan yang dihuni sekitar 381 Kepala Keluarga (KK) tersebut telah mengelola 61 ekor ayam petelur yang didapat dari bantuan Kalurahan serta anggota Dewan. Dari jumlah tersebut, kelompok warga mampu mengantongi pemasukan kas sekitar Rp500 ribu per bulan. (Dewi Rukmini)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *