Timnas yang Kuat Harus Ditopang Sepakbola yang Kuat (Bagian 4, Habis)

Catatan Wahyudi Kurniawan

Olahraga34 Dilihat

KARENA itu saya kira kita tidak perlu mempertentangkan pemain naturalisasi dengan pemain lokal, Timnas dengan kompetisi domestik, klub profesional dengan klub amatir atau prestasi jangka pendek dengan pembinaan jangka panjang.

Semuanya harus menjadi satu kesatuan. Kita membutuhkan Timnas yang kuat. Tetapi kita juga membutuhkan kompetisi yang kuat.

Kita membutuhkan klub yang sehat. Kita membutuhkan akademi yang produktif. Kita membutuhkan SSB yang berkualitas.Kita membutuhkan KKO dan sekolah yang mampu mengintegrasikan pendidikan dengan olahraga.

Kita membutuhkan pelatih yang terus berkembang. Kita membutuhkan wasit dan perangkat pertandingan yang profesional.Dan kita membutuhkan jalur yang jelas bagi anak-anak Indonesia untuk mencapai level tertinggi.

Peran DIY
DIY memiliki alasan historis yang kuat karena PSSI lahir di Yogyakarta. Tetapi tugas kita hari ini bukan sekadar menjaga kenangan sejarah tersebut. Kita harus melanjutkan semangatnya.

Dulu para pendiri PSSI membangun organisasi sepakbola ketika Indonesia bahkan belum menjadi negara merdeka. Hari ini kita memiliki negara yang besar, penduduk yang besar, sumber daya manusia yang besar, kompetisi yang semakin berkembang dan kecintaan masyarakat terhadap sepakbola yang luar biasa. Maka tantangannya adalah bagaimana mengubah potensi itu menjadi sistem yang menghasilkan.

DIY bisa menjadi salah satu contoh.Di DIY mulai SSB hingga klub professional ada. Begitu pula sekolah hingga perguruan tinggi. Dari wasit, perangkat pertandingan, pelatih hingga supporter semua ada. Semuanya itu dapat menjadi bagian dari satu ekosistem pembinaan.

Tidak hanya itu. Sejarahnya pun sudah ada. Modalnya juga sudah ada. Tinggal bagaimana mata rantainya disambungkan.

Persoalan kita bukan kekurangan anak yang bermain sepakbola. Indonesia memiliki jutaan anak yang menyukai sepakbola.Persoalannya adalah berapa banyak dari mereka yang memiliki akses pembinaan yang baik, kompetisi yang berjenjang, pelatih berkualitas, fasilitas yang memadai, dukungan pendidikan, kesempatan bermain, scouting yang objektif, dan jalur yang jelas menuju sepakbola profesional. Karena talenta tanpa sistem sering kali hanya menjadi potensi. Sedangkan talenta yang bertemu sistem akan menjadi prestasi.

Membangun untuk Esok
Malam ketika Timnas menang, tentu kita boleh berpesta. Kita boleh bangga, mengibarkan Merah Putih dan menyanyikan Indonesia Raya dengan dada membusung.

Tetapi setelah sorak-sorai selesai, kita harus kembali ke lapangan-lapangan kecil tempat anak-anak berlatih. Kita kembali ke SSB, akademi, KKO, klub dan kompetisi. Kita kembali ke lapangan desa dan lapangan kabupaten karenamasa depan Timnas sebenarnya sedang dibangun di sana.

Timnas yang hebat bukan hanya dibangun ketika sebelas pemain berkumpul di pemusatan latihan. Timnas yang hebat dibangun bertahun-tahun sebelumnya. Timnas dibangun dari lapangan kecil, Sekolah, SSB hingga kompetisi profesional. Semua itu akan bermuara pada Merah Putih.

Saat ini Timnas sudah mulai membanggakan. Kini saatnya sepakbolanya harus menyusul.

Karena itu, saya ingin kembali kepada pertanyaan besar yang menjadi dasar tulisan ini: Apa sebenarnya yang ingin kita bangun? Apakah kita hanya ingin membangun Tim Nasional yang mampu memenangkan pertandingan? Ataukah kita ingin membangun peradaban sepakbola Indonesia? Sepakbola yang kompetisinya sehat, klubnya kuat, akademinya produktif, SSB-nya berkualitas dan KKO-nya berkembang.

Semua ini masih harus didukung pelatih yang berkualitas, wasitnya berintegritas, perangkat pertandingannya professional dan manajemen klub yang sehat. Dengan manajeman klub yang sehat, kompetisi kompetisi berjenjang maka pemain muda akan memiliki jalan yang jelas dari SSB sampai mengenakan seragam Merah Putih. Kita tidak perlu memilih salah satunya karena kita membutuhkan keduanya. Tim Nasional yang kuat dan sepakbola nasional yang kuat.

Hampir satu abad kemudian, DIY masih memiliki ekosistem sepakbola yang hidup. Sleman memiliki SSB, akademi, KKO, klub dan kompetisi. Kabupaten dan kota di DIY memiliki klub-klub yang terus bergerak mulai dari SSB, klub amatir hingga profesional. Kompetisi juga jalan. Semua itu adalah modal.

Tantangannya sekarang adalah bagaimana seluruh modal tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri. kita harus membuat satu sistem untuk bisa menemukan pemain terbaik dari lapangan desa.
Bagaimana pemain terbaik dari SSB bisa naik. Bagaimana pemain terbaik dari kompetisi amatir bisa mendapatkan kesempatan. Bagaimana klub profesional memiliki jalur scouting yang jelas. Dan bagaimana pada akhirnya pemain-pemain terbaik itu bersaing untuk satu tujuan mengenakan lambang Garuda di dada.

Sebab ukuran keberhasilan sepakbola Indonesia bukan hanya ketika kita berhasil mengumpulkan sebelas pemain terbaik yang dimiliki Indonesia. Ukuran keberhasilan yang lebih fundamental adalah ketika sistem sepakbola Indonesia mampu melahirkan sebelas pemain terbaik itu sendiri.

Maka kemenangan Timnas jangan hanya menjadi alasan untuk berpesta. Jadikan kemenangan sebagai momentum untuk bertanya lebih dalam.

Timnas kita sudah mulai membanggakan. Kini, kapan sepakbola Indonesianya menyusul? Dan mungkin, karena PSSI lahir di Yogyakarta, pertanyaan itu layak kita mulai dari sini. Bisakah DIY kembali menjadi salah satu tempat lahirnya masa depan sepakbola Indonesia?

Saya percaya, jawabannya bukan sekadar diucapkan. Jawabannya harus dibangun—di lapangan, di klub, di kompetisi, di sekolah, di SSB, di akademi, dan di seluruh ekosistem sepakbola kita. (JANASVARA.COM/habis)

Wahyudi Kurniawan
Mantan Ketua Askab PSSI Sleman 2017–2025
Mantan Waketum Asprov PSSI DIY 2019–2023