Satu Abad Gereja Kotabaru: Berani Terlibat di Tengah Perubahan

Kota Jogja39 Dilihat
banner 468x60

JOGJA, JANASVARA.COM – Dalam rangka memperingati 100 tahun Gereja St. Antonius Padua Kotabaru Jogja, digelar Malam Tirakatan & Sarasehan Kebinekaan, Jumat, (25/9/2026). Acara ini berlangsung dengan penuh rasa syukur, hangat, dan sarat makna.

Acara ini merupakan salah satu bagian utama dari rangkaian peringatan satu abad berdirinya Gereja Kotabaru. Rangkaian kegiatan diawali dengan Misa Harian pada pukul 17.30 WIB, dilanjutkan sarasehan bersama Romo Martinus Joko Lelono, Pr dan aktivis kebinekaan Inaya Wahid, serta ditutup dengan refleksi mendalam dari Pastor Paroki Kotabaru.

banner 336x280

Romo Joko menekankan pentingnya semangat memperbaharui diri secara terus-menerus bagi gereja dan umat. Beliau menyampaikan bahwa “DNA Kotabaru” adalah Gereja yang menolak tua. Gereja senantiasa aktif mencari cara-cara terbaru untuk menemukan hal-hal yang membawa kemuliaan lebih besar bagi Tuhan, selaras dengan semangat para imam Serikat Yesus, Ad Maiorem Dei Gloriam. Spiritualitas ini mengajak seluruh masyarakat untuk terus memperbaharui diri dan aktif mencari jalan terbaik dalam terlibat di kehidupan bermasyarakat hari ini.

Menanggapi dinamika dan tantangan zaman, beliau mengingatkan agar umat senantiasa menjaga harapan sekecil apa pun di dalam diri, meneladani pesan Paus Fransiskus bahwa “masih ada hal baik yang menanti kita di depan sana.”

Pesan Kebinekaan
Inaya Wahid memberikan penegasan kuat yang memantik optimisme para peserta. Mengutip pemikiran filsuf dan konsep Misykāt (ceruk cahaya) dari Al-Ghazali, Inaya menekankan bahwa kebahagiaan dan titik terang akan selalu ditemukan dalam kondisi paling gelap sekalipun, asalkan ada keberanian untuk menyalakan lampunya.

“Mungkin hari ini kalau kita merasakan bahwa hidup lagi gelap, kebahagiaan itu akan selalu bisa ditemukan di dalam kondisi paling gelap sekalipun kalau seseorang ingat menyalakan lampunya. Dalam kondisi negara yang paling gelap sekalipun, kalau kita mau menyalakan lampunya, kita akan jadi terang. Seperti konsep Misykāt Al-Ghazali, ceruk cahaya kecil saja—tidak harus seperti obor di GBK,” ujar Inaya Wahid.

Secara khusus, Inaya mendorong generasi muda untuk mengambil peran aktif melalui tradisi membaca dan memperluas ilmu. Bagi orang muda, membaca tidak sebatas berhadapan dengan teks formal, tetapi juga berarti pergi sejauh-jauhnya, menemui banyak orang, dan memahami beragam realitas kehidupan di tengah masyarakat.

Rm. Nicolaus Devianto Fajar Trinugroho, SJ, selaku Pastor Paroki Kotabaru, menyampaikan refleksi pungkasan yang mengajak seluruh umat untuk berani melangkah keluar dan memberikan kontribusi nyata di tengah pergumulan dunia. “Apakah muncul dalam ide gagasanku bahwa aku ingin terlibat dan ingin ambil bagian dalam mengurai berbagai kekusutan, kegelapan yang tanpa harapan? Ini adalah pertanyaan tentang mana yang membawaku kepada kemuliaan Tuhan yang lebih besar,” tutur Rm. Fajar, SJ.

Romo Fajar juga mengutip pesan dari Pater Jenderal Serikat Yesus yang mengingatkan agar umat tidak membiarkan diri dipenuhi rasa cemas terhadap perubahan zaman, melainkan fokus pada apa yang dapat ditawarkan untuk kebaikan bersama. “Pater Jenderal Serikat Yesus pernah mengatakan: jangan takut dengan dunia yang berubah, tetapi takutlah kalau dalam perubahan itu kita tidak memiliki sesuatu untuk ditawarkan,” katanya.(Wisnu Wardhana)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *