Penanganan Stunting Butuh Data Akurat

Sleman14 Dilihat

SLEMAN, JANASVARA.COM– Wakil Bupati Danang Maharsa mengatakan, dinamika penanggulangan stunting memerlukan fondasi data yang kuat agar bantuan intervensi tidak mengalami kendala teknis di lapangan.

“Dinamika dan kompleksitas penanggulangan stunting menuntut kita membangun fondasi penting. Disinilah pentingnya Satu Data Stunting dibutuhkan untuk membangun data yang akurat dan terintegrasi guna menghindari pencatatan ganda, tumpang tindih intervensi, atau bahkan luputnya calon penerima bantuan,” jelas Danang, dalam acara Workshop Penguatan Jejaring Penanganan Stunting di Sleman, Rabu (21/10/2026), bertempat di Pendopo Parasamya Setda Sleman.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman meluncurkan dua langkah strategis penanganan stunting, yakni sistem intervensi digital Satu Data Stunting dan program pendampingan psikologis MATA HATI bekerja sama dengan PT Indomarco Prismatama (Indomaret Cabang Jogja).

Wakil Bupati juga mengingatkan bahwa stunting adalah ancaman nyata bagi perkembangan kognitif generasi penerus. Ibu hamil atau pengasuh yang mengalami kendala kesehatan mental cenderung menghadapi hambatan dalam memberikan pola asuh dan nutrisi optimal bagi balitanya.

Pemkab Sleman mengapresiasi tinggi kolaborasi bersama Indomaret Cabang Jogja dan mengajak seluruh sektor untuk mereplikasi kepedulian serupa demi mengentaskan kemiskinan dan memajukan kesejahteraan masyarakat Sleman.

Inisiatif ini hadir sebagai jawaban atas pentingnya penanganan stunting yang komprehensif, tidak hanya mencakup pemenuhan gizi dan pemeriksaan kehamilan berkala, tetapi juga intervensi kesehatan mental bagi ibu hamil, ibu menyusui, serta para pengasuh anak.

Berdasarkan data resmi Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, prevalensi stunting di Kabupaten Sleman pada 2026 berhasil ditekan hingga mencapai angka 4,04%. Hasil ini menunjukkan tren penurunan yang progresif dibandingkan 2025 yang berada di angka 4,29%, sekaligus melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sleman sebesar 4,11%.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Dwi Anta Sudibyo menegaskan, pencapaian positif data prevalensi ini merupakan buah dari konsistensi intervensi yang terukur di lapangan. Namun, keterpaduan data dan penguatan aspek psikologis keluarga tetap menjadi kunci utama kelanjutan tren positif tersebut.

“Data Dinas Kesehatan menunjukkan tren penurunan stunting yang sangat positif hingga mencapai 4,04%. Melalui ‘Satu Data Stunting’, kami memastikan seluruh data terintegrasi antar-instansi secara akurat dan mutakhir sehingga intervensi medis maupun gizi tepat sasaran tanpa tumpang tindih. Penguatan ini kian lengkap dengan program  MATA HATI yang menyasar kesehatan mental ibu dan pengasuh sebagai pilar utama pola asuh anak,” ujar Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Dwi Anta Sudibyo.

Inovasi Satu Data Stunting hadir untuk membenahi tata kelola data dengan membangun sistem terpadu guna menghindari pencatatan ganda serta mencegah luputnya calon penerima bantuan intervensi. Sementara itu, program MATA HATI (Indomaret untuk Kesehatan Mental) berfokus pada kesehatan psikologis ibu dan pengasuh, mengingat hambatan kesehatan mental dapat memicu kendala serius dalam pemberian nutrisi dan pola asuh optimal bagi balita.