Pemkab Sleman Siapkan Strategi Tarik Minat Warga Kembali ke Pasar

Sleman38 Dilihat

SLEMAN, JANASVARA.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menyiapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan kembali minat masyarakat berkunjung ke pasar tradisional. Upaya tersebut dilakukan menyusul adanya penurunan jumlah kunjungan di sejumlah pasar.

Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Pasar Tradisional Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman, Heronimus Heru Baranti, mengatakan penurunan kunjungan salah satunya dipengaruhi adanya perubahan persepsi masyarakat terhadap pasar tradisional.

“Sebenarnya bukan nggak baik-baik saja, tapi ada penurunan terkait tidak seramai dulu. Ada pergeseran persepsi masyarakat terhadap pasar,” katanya saat diwawancarai wartawan di Rumah Dinas Bupati Sleman, Selasa (22/9/2026).

Menurut Heronimus, kondisi pasar yang kini lebih tertata setelah direvitalisasi justru membuat sebagian masyarakat memiliki anggapan pasar sudah menyerupai pusat perbelanjaan.

“Kalau dulu kan pasar satu lantai, sekarang dengan adanya demikian bagus, tertata, orang mengira kayak mal, anggapannya harganya naik, enggak, ya,” ujarnya.

Selain perubahan persepsi, ia melihat penurunan aktivitas jual beli juga berkaitan dengan perubahan posisi los atau kios setelah revitalisasi pasar.

Kondisi tersebut membuat sebagian pelanggan yang sebelumnya memiliki kebiasaan berbelanja di lokasi tertentu tidak lagi menemukan pedagang atau produk yang biasa mereka cari.

Sasar Gen Z

Untuk kembali menggeliatkan aktivitas ekonomi di pasar, Pemkab Sleman mulai menyasar generasi Z. Salah satu konsep yang disiapkan adalah menghadirkan aktivitas anak muda di ruang khusus yang tersedia di pasar.

Heronimus mengatakan lantai tiga Pasar Godean menjadi salah satu ruang yang berpotensi dimanfaatkan untuk kegiatan tersebut. Salah satu konsep yang tengah dipertimbangkan adalah memperbanyak pilihan kuliner.

Menurutnya, pengelola pasar juga telah memberikan ruang bagi berbagai pihak untuk menggelar kegiatan yang dapat menghidupkan kembali aktivitas pasar, mulai dari pameran hingga kegiatan keagamaan.

“Untuk Gen Z kita melakukan podcast, yang mengisi juga dari kalangan Gen Z. Karena saat ini kan yang mereka tahu sebatas mal, kafe,” katanya.

Ia menambahkan, Pemkab Sleman dalam waktu dekat juga akan melakukan kajian terkait pengembangan sejumlah pasar. Kajian tersebut rencananya menggunakan Anggaran Belanja Tahunan (ABT).

“Kita ini nanti ada ABT. Sudah kerja sama dengan Universitas Atma Jaya, tapi kajiannya setelah Oktober,” kata Heronimus.

Sementara itu, Sekretaris Disperindag Sleman, Aris Herbandang, mengatakan rencana pemanfaatan lantai tiga Pasar Godean masih perlu dikaji lebih lanjut.

Sebelumnya, lantai tersebut dirancang untuk menjadi los pasar tradisional. Namun, kini muncul rencana mengubah fungsinya menjadi area kuliner.

Menurut Aris, perubahan fungsi tersebut harus didasarkan pada kajian yang komprehensif, terutama terkait kebutuhan infrastruktur seperti jaringan air bersih dan pengelolaan air limbah.

“Artinya butuh infrastruktur yang perlu diperhatikan terkait jaringan air bersih, air limbah akan seperti apa, jangan semata-mata mengubah,” katanya.

Kajian juga diperlukan untuk menentukan jenis komoditas dan konsep perdagangan yang akan ditempatkan di lantai tiga agar tidak mengganggu aktivitas pasar yang sudah berjalan.

“Pola kita harus komprehensif, termasuk kajian terkait lantai tiga itu, pasarnya nanti apa, komoditasnya apa, kemudian fisiknya yang disediakan, strukturnya yang akan kita lakukan seperti apa,” ujarnya.

Aris menambahkan, apabila lantai tiga nantinya digunakan untuk aktivitas kuliner, segmen usaha yang dikembangkan juga harus diperhitungkan. Hal itu untuk mencegah terjadinya persaingan dengan pedagang yang sudah lebih dulu berjualan di Pasar Godean.

“Karena prioritas kita kuliner, kalau kuliner seperti apa jangan sampai mengganggu yang eksisting ada, itu kan juga penting,” katanya.

Oleh karena itu, Pemkab Sleman masih akan melakukan kajian khusus sebelum menetapkan konsep pemanfaatan lantai tiga Pasar Godean.

“Perlu ada kajian yang khusus, kalau harapan kami pasarnya sendiri dan nanti rekomendasikan untuk kuliner ya beda segmennya. Hal itu yang perlu kita kaji agar tidak terjadi konflik di pasar itu sendiri,” pungkasnya. (Hadid Pangestu)