Kemenag Samakan Perlakuan Semua Perguruan Tinggi Keagamaan

Kota Jogja46 Dilihat
banner 468x60

JOGJA, JANASVARA.COM – Kementerian Agama berkomitmen untuk menyamakan perlakuan dan memperkuat seluruh perguruan tinggi keagamaan di bawah naungannya. Artinya, perguruan tinggi Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, hingga lembaga pendidikan keagamaan lainnya akan berada dalam satu payung pembinaan di bawah Kementerian Agama.

Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar mengimbau masyarakat agar tidak lagi membeda-bedakan antara Perguruan Tinggi Umum (PTU) dan Perguruan Tinggi Keagamaan. Sebab, prestasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga yang mampu menembus jajaran teratas perguruan tinggi terbaik di Indonesia menjadi bukti nyata bahwa lembaga pendidikan Islam mampu berpacu dengan institusi pendidikan manapun.

banner 336x280

​Tidak hanya di tingkat perguruan tinggi, kualitas pendidikan di bawah pengelolaan Kementerian Agama juga tercermin dari prestasi lembaga pendidikan tingkat menengah, seperti Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia yang konsisten menempati posisi puncak dan belum tertandingi oleh sekolah unggulan umum lainnya di Indonesia.

​”Ini buktinya bahwa lembaga pendidikan di bawah pengelolaan Kementerian Agama mampu bersaing dan tidak tertinggal oleh lembaga pendidikan umum yang lain,” papar dia saat membuka ajang Olimpiade Agama Sains Riset (OASE) III Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) 2026 di UIN Sunan Kalijaga Jogja, pada Rabu (4/11/2026).

Olimpiade tersebut akan mempertemukan ratusan mahasiswa dari 54 PTKIN se-Indonesia untuk berkompetisi, bertukar gagasan, dan mengembangkan jejaring akademik dalam bidang agama, sains, dan riset.

Gelaran OASE PTKIN yang mengusung tema Tumbuh dan Berkembang Bersama Prestasi itu berlangsung pada 3-7 November 2026. UIN Sunan Kalijaga Jogja dipilih sebagai tuan rumah gelaran tersebut setelah berhasil menempati peringkat kedua nasional sebagai perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

“Kali ini kami mengambil tempat di UIN Sunan Kalijaga Jogja bukan tanpa alasan. Karena UIN ini, Alhamdulillah baru saja mendapatkan suatu predikat luar biasa menempati urutan kedua setelah Universitas Indonesia. Selamat kepada UIN Sunan Kalijaga Jogja atas prestasinya,” ucap Nasaruddin.

Melalui gelaran OASE III kali ini, Menag Nasaruddin berharap lahir bibit-bibit unggul dari perguruan tinggi keagamaan yang mampu menampilkan berbagai temuan eksperimental. Diharapkan, karya-karya riset tersebut nantinya bakal disempurnakan pasca-kelulusan mahasiswa. Sehingga dapat menjadi kekayaan intelektual bangsa untuk mengorbitkan Indonesia sebagai negara yang diperhitungkan dalam bidang sains dan riset global.

Pada kesempatan tersebut, Menag juga menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mengawal teknologi hilirisasi produk lokal. Ia mencontohkan potensi besar dari pengolahan komoditas mentah, seperti buah kelapa yang melalui proses hilirisasi dapat memberikan nilai tambah ekonomi yang berkali-kali lipat bagi bangsa.

​”Pemerintah kita sekarang berusaha untuk mengekspor bukan bahan baku lagi, tetapi produk hilirisasi. Sponsor daripada teknologi hilirisasi ini adalah UIN, IAIN, dan perguruan tinggi keagamaan di bawah Kementerian Agama. Tentu saja juga bersinergi dengan perguruan tinggi umum lainnya,” jelas dia.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, menegaskan OASE menjadi wadah untuk menerjemahkan integrasi ilmu ke dalam kemampuan dan karya mahasiswa. Ia berharap pembinaan talenta di PTKIN melahirkan generasi yang memiliki kedalaman agama sekaligus kecakapan mengembangkan sains. “OASE mencita-citakan lahirnya Ibnu Sina-Ibnu Sina baru, Ibnu Rusyd-Ibnu Rusyd baru,” ungkap Suyitno.

Dia memaparkan, OASE pertama kali diselenggarakan secara daring di Aceh pada 2021, kemudian berlanjut di Jakarta pada 2023. Penyelenggaraan ketiga di Jogja  melanjutkan penguatan wadah kompetisi dan pembinaan talenta sains serta riset mahasiswa PTKIN.

Dia mendorong setiap PTKIN menemukan dan memperkuat kekhasannya masing-masing. Keunggulan kampus dikatakan dapat dikembangkan melalui reputasi riset, integrasi pendidikan agama dan sains, kepedulian lingkungan, maupun potensi lain yang sesuai dengan karakter institusi.

Ia juga meminta capaian mahasiswa ditindaklanjuti dengan pencatatan prestasi melalui kanal nasional. Langkah tersebut diperlukan agar perkembangan keilmuan PTKIN semakin dikenal masyarakat. “Dunia harus tahu itu, dan caranya para Wakil Rektor III harus aktif mengisi aplikasi Puspresnas,” tegas Suyitno.

Rektor UIN Sunan Kalijaga, Noorhaidi Hasan mengatakan, kehadiran 54 PTKIN menunjukkan komitmen bersama dalam mengembangkan generasi yang cerdas, berintegritas, kreatif, dan mampu berkontribusi bagi masyarakat.

“OASE bukan sekadar ajang memperebutkan medali dan menentukan siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, OASE adalah ruang perjumpaan gagasan, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan talenta terbaik mahasiswa PTKIN,” ungkapnya.(Dewi Rukmini)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *