Jaga Pasokan, PDAM Tirta Sembada Aktifkan Sumber Air Kapasitas Besar

Berita22 Dilihat
banner 468x60

SLEMAN, JANASVARA.COM – Mulai menurunnya debit di beberapa sumber air PDAM Tirta Sembada, perusahaan air minum milik Sleman ini mulai menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga ketersediaan air bagi pelanggan. Saat ini, debit sejumlah sumber air yang digunakan PDAM Tirta Sembada Sleman mengalami penurunan sekitar 10 hingga 18 persen. Jika dikalkulasikan, potensi kekurangan pasokan mencapai sekitar 40 liter per detik.

Meski demikian, PDAM berupaya agar penurunan debit tidak langsung berdampak terhadap pelayanan kepada masyarakat.

banner 336x280

“Kami berupaya menjaga pasokan tetap tersedia. Kami juga mencari sumber lain agar suplai kepada masyarakat tetap terjaga,” kata Direktur PDAM Tirta Sembada, Bernardus Edy Nugroho, Rabu (12/8/2026).

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengaktifkan kembali sumber air yang masih memiliki kapasitas besar, termasuk sumber di wilayah Sleman bagian barat. PDAM juga akan mengoptimalkan sumur dalam yang telah mengantongi izin dari Kementerian ESDM sebagai salah satu sumber alternatif.

Kemarau turut menyebabkan sejumlah sumber air di Sleman mulai menyusut. Bahkan, beberapa aliran sungai yang sebelumnya masih mengalir kini mulai mengering.

“Air sungai di Sleman sekarang sudah mulai kering. Di Sleman utara juga terjadi kekeringan,” jelasnya.

46 Ribu Pelanggan
PDAM Tirta Sembada saat ini melayani sekitar 46 ribu sambungan pelanggan. Selain rumah tangga, pelanggan tersebut berasal dari sektor niaga, termasuk hotel dan berbagai tempat usaha.

Edy menyebut jumlah pelanggan kategori niaga telah mencapai sekitar 100. Salah satu pelanggan dari sektor komersial yang telah menggunakan layanan PDAM adalah Pakuwon Mall.

PDAM terus mengajak pelaku usaha yang belum menjadi pelanggan untuk mendaftarkan diri, khususnya mereka yang berada di kawasan yang telah terjangkau jaringan perpipaan.

“Kami terus mendorong mereka untuk berlangganan. Setiap tahun kami juga terus melakukan pendaftaran pelanggan,” katanya.

Untuk menjaga keseimbangan pelayanan, PDAM mulai melakukan pemisahan antara pelanggan rumah tangga dan pelanggan niaga.

Langkah tersebut dilakukan agar tingginya kebutuhan air dari sektor usaha tidak mengganggu pemenuhan kebutuhan pelanggan rumah tangga.

Edy juga mendorong hotel, restoran, serta pelaku usaha dan industri untuk mulai mengurangi ketergantungan terhadap sumur dalam dan beralih menggunakan layanan air perpipaan.

Saat ini masih terdapat sejumlah hotel dan pelaku usaha yang memanfaatkan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air. Menurutnya, penggunaan air tanah perlu dilakukan secara bijak, terlebih jika dieksploitasi dalam jumlah besar.

Edy, mengatakan, PDAM siap melayani kebutuhan sektor usaha apabila jaringan perpipaan telah tersedia dan masih memiliki kapasitas yang belum terpakai.

“Kalau jaringan kami sudah tersedia dan masih ada kapasitas yang idle, kami mengimbau pelaku usaha untuk menggunakan PDAM,” kata Bernardus.

Ia mengingatkan eksploitasi air tanah secara berlebihan dapat memicu penurunan muka tanah. Fenomena tersebut, kata dia, telah menjadi persoalan di sejumlah kota besar seperti Jakarta dan Semarang.

“Kalau sumur dalam terus dibor dan dieksploitasi besar-besaran, permukaan tanah bisa turun. Ini menjadi perhatian kami,” ujarnya.

Menurutnya, kebutuhan air dari sektor hotel dan niaga cukup tinggi. Sebagian pelaku usaha bahkan masih memiliki izin penggunaan sumur bor sehingga kebutuhan airnya dipenuhi melalui sumber tersebut.(Hadid Pangestu)

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *