SLEMAN, JANASVARA.COM — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman menyiapkan anggaran sekitar Rp25 juta untuk pendistribusian air bersih ke wilayah yang terdampak kekeringan. Anggaran tersebut diperkirakan cukup untuk menyediakan sekitar 50 tangki air.
Kepala BPBD Sleman Bambang Kuntoro mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan air bersih selama musim kemarau.
“Kita juga telah mempersiapkan anggaran untuk dropping air yang terbatas, kurang lebih Rp25 juta kita siapkan, dikonversi menjadi 50 tangki,” kata Bambang.
Menurut Bambang, dropping air tahun ini bahkan telah dilakukan sebelum memasuki periode kekeringan yang lebih panjang. Salah satunya di wilayah Wonokerto, Kapanewon Turi, yang berada di sekitar Sungai Krasak.
Di wilayah tersebut, debit air mengalami penurunan setelah aliran sungai terdampak longsoran tebing. Kondisi kekeringan juga semakin terasa di wilayah hulu Sungai Krasak.
Intensitas dropping air kemudian ditingkatkan pada Juli dan Agustus. Salah satu wilayah yang mendapat perhatian adalah Moyudan.
Bambang menjelaskan, persoalan di Moyudan sempat terjadi karena jaringan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) mengalami gangguan akibat tersumbat lumpur.
“Di Moyudan PAM-nya macet, tersumbat lumpur. Kemudian teman-teman relawan dan beberapa pemangku wilayah melihat di sana, ternyata sumur di kanan kiri masih ada,” ujarnya.
Setelah jaringan tersebut dibersihkan dan kotorannya diangkat, layanan Pamsimas kembali dapat dimanfaatkan. Meski demikian, BPBD tetap melakukan dropping air untuk memenuhi kebutuhan warga.
“Setelah PAM dibersihkan dan diangkat kotorannya, pengurus Pamsimas dari PU Sleman ini dibersihkan selesai. Kita dropping sudah lima kali,” jelasnya.
Bambang menyebut kondisi kekeringan di Sleman perlu diantisipasi karena anomali El Nino membuat durasi musim kering semakin panjang. Awal musim hujan juga diperkirakan mundur hingga akhir tahun.
Sebagai langkah antisipasi, Bupati Sleman Harda Kiswaya telah menerbitkan Surat Keputusan Siaga Darurat Kekeringan yang berlaku mulai 1 Juli hingga 30 Agustus 2026.
Selain menyiapkan dropping air, BPBD Sleman juga meningkatkan kesiapsiagaan bersama berbagai stakeholder. TNI, Polri, Baznas, relawan, Damkar Satpol PP, BMKG, dan BPTKG dilibatkan dalam apel siaga Karhutla.
“Pagi tadi kita bersama semua stakeholder, baik TNI, Polri, Baznas, relawan, Damkar Satpol PP, BMKG, BPTKG bersama-sama apel siaga Karhutla melihat meningkatnya intensitas kekeringan akhir-akhir ini,” katanya.
Bambang menambahkan, persoalan kekeringan di Turi bukan hal baru. Kondisi serupa juga terjadi pada 2023 ketika hampir seluruh kapanewon di Sleman mengalami kekeringan.
“Ada salah satu pemangku wilayah meminta untuk dropping, salah satunya Kapanewon Turi,” pungkasnya. (Hadid Pangestu)















