SLEMAN, JANASVARA.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman bersama Field Epidemiology Training Program (FETP) Universitas Gadjah Mada (UGM) masih menyelidiki dugaan keracunan pangan yang dialami sejumlah siswa di Kapanewon Turi setelah mengonsumsi program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sleman, Khamidah Yuliati, mengatakan penyelidikan dilakukan dengan menelusuri rantai makanan, termasuk sumber bahan pangan dari supplier Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wonokerto, Turi. Dari hasil analisis epidemiologi sementara, belum ditemukan hubungan yang signifikan secara statistik antara menu MBG dengan munculnya keluhan kesehatan pada penerima makanan. Meski demikian, salah satu menu, yakni bola-bola sapi goreng, memiliki ukuran asosiasi paling tinggi sehingga masih menjadi salah satu fokus dalam proses investigasi.
“Bola-bola sapi goreng menunjukkan ukuran asosiasi paling tinggi dan masih menjadi bagian yang ditelusuri dalam investigasi. Namun, belum dapat dinyatakan sebagai penyebab kejadian,” ujar Yuli saat dikonfirmasi, Selasa (8/9/2026).
Dinkes Sleman juga telah mengambil sampel makanan dan air untuk pemeriksaan laboratorium. Sampel tersebut dikirim ke laboratorium pada 7 September 2026 dan hasilnya masih dalam proses.
Yuli menjelaskan, setelah menerima laporan adanya keluhan kesehatan, pihaknya meminta sekolah menghentikan sementara konsumsi maupun distribusi makanan di lokasi. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mencegah bertambahnya jumlah siswa yang mengalami keluhan.
Sebelum penghentian dilakukan, tercatat sebanyak 867 porsi MBG telah diterima dan dikonsumsi di enam satuan pendidikan. “Sebagian porsi yang telah terlanjur diterima dan dikonsumsi tercatat sebanyak 867 porsi pada enam satuan pendidikan,” katanya.
Selain pemeriksaan sampel, Dinkes Sleman masih melakukan penelusuran food chain, kondisi lingkungan, serta analisis epidemiologi untuk memastikan sumber dan penyebab kejadian. Pemkab Sleman juga terus memantau kondisi para penerima MBG serta berkoordinasi dengan Puskesmas, sekolah, SPPG, dan sejumlah pihak terkait.
Menurut Yuli, kesimpulan terkait penyebab kejadian baru akan disampaikan setelah seluruh rangkaian pemeriksaan dan investigasi selesai. Berdasarkan data sementara hingga Senin (7/9/2026) pukul 20.30 WIB, sebanyak 261 responden telah tercatat dalam pendataan. Dari jumlah tersebut, 35 anak mengalami keluhan kesehatan, sedangkan 226 lainnya tidak mengalami keluhan.
Sementara itu, sebanyak 204 responden diketahui mengonsumsi makanan MBG. “Tidak terdapat pasien yang menjalani rawat inap. Sebanyak 19 orang menjalani rawat jalan, tujuh orang berobat mandiri, dan sembilan orang tidak menjalani pengobatan,” jelasnya.
Dari sejumlah sekolah yang terdampak, SMPN 3 Turi menjadi satuan pendidikan dengan jumlah dugaan kasus keracunan pangan paling banyak ditemukan. (Hadid Pangestu)
















