Benih Gamagora 7 Milik UGM Terserap 170 Ton

Sleman37 Dilihat

SLEMAN, JANASVARA.COM – Benih padi Gamagora 7 hasil pengembangan Universitas Gadjah Mada (UGM) mulai terserap dalam jumlah besar. Hingga Oktober 2026, sebanyak 170 ton benih varietas tersebut telah disalurkan kepada petani di Sleman dan sejumlah daerah di luar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat berkunjung ke Pusat Inovasi Agro Teknologi (PIAT) UGM di Berbah, Sleman, Kamis (15/10/2026).

Kunjungan itu dilakukan sebagai tindak lanjut dari pertemuan antara Kementerian Pertanian (Kementan) dan UGM di Jakarta pada Juni 2026. Dalam kesempatan tersebut, Kementan juga membeli hasil pengembangan pertanian PIAT UGM, termasuk benih padi Gamagora 7.

Amran menyebut, realisasi penyerapan 170 ton benih tersebut bernilai Rp 2,7 miliar.”[Gamagora 7] yang benih, masih kecil sudah ada 170 ton, harganya Rp 2,7 miliar,” kata Amran saat diwawancarai wartawan.

Tak hanya padi, Kementan turut menyerap produk kedelai yang dikembangkan PIAT UGM. Produksi kedelai tersebut saat ini mencapai 2,6 ton.

Amran mendorong agar produktivitas kedelai ditingkatkan hingga lebih dari 3 ton per hektare pada tahun depan. Ia menyebut pemerintah telah menandatangani kesepakatan dengan UGM untuk pengembangan lahan seluas 2.000 hektare.

“Tapi kami minta, kalau perlu di atas 3 ton kita kembangkan lagi tahun depan. Kita sudah tanda tangan kesepakatan dengan UGM 2 ribu hektare. Tapi kalau mampu 5 ribu, kami siapkan anggarannya,” ujarnya.

Amran menegaskan, pemerintah mengapresiasi upaya PIAT UGM dalam mengembangkan produk pertanian sesuai dengan komitmen yang telah dibicarakan sebelumnya.

“Sekali lagi kami apresiasi kerja kerasnya (PIAT) ini sesuai komitmen pembicaraan kami di Jakarta,” katanya.

Kepala PIAT UGM Alan Soffan mengatakan, pihaknya telah merealisasikan penyerapan 170 ton benih Gamagora 7. Benih tersebut kemudian didistribusikan kepada petani melalui skema penyaluran yang telah ditetapkan.

UGM juga berencana meningkatkan produksi benih untuk memenuhi kebutuhan petani. Pada 2027, PIAT UGM menargetkan produksi lanjutan sekitar 430 ton.

“Pada 2027 juga akan kami lanjutkan sekitar 430 ton, Pak Menteri ingin Gamagora 7 bisa lebih banyak lagi,” kata Alan.

Menurut Alan, perluasan penggunaan Gamagora 7 dilakukan melalui kerja sama dengan penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan berbagai pihak terkait. Upaya tersebut ditujukan untuk mendorong petani beralih menggunakan varietas unggul yang dikembangkan UGM.

“Kami juga bekerja sama dengan PPL dan pihak terkait untuk meningkatkan adopsi varietas unggul Gamagora 7 oleh para petani,” ujarnya.

Alan menjelaskan, Gamagora 7 memiliki potensi hasil panen mencapai 9,8 ton per hektare. Pengembangannya didukung sistem Pertanian Modern-Agriculture System (PMAS) serta penerapan berbagai teknologi pertanian.

Salah satu keunggulan varietas tersebut adalah kemampuannya ditanam di dua kondisi lahan, yakni sawah beririgasi dan sawah tadah hujan. Karakteristik itu membuat Gamagora 7 dikenal sebagai padi amfibi.

“Kemudian kita mengenalnya sebagai padi amfibi, karena bisa ditanam sawah irigasi maupun sawah tadah hujan,” jelasnya.

Selain itu, Gamagora 7 memiliki umur tanaman dan postur yang relatif lebih pendek. Karakteristik tersebut dinilai memberikan keuntungan ketika tanaman menghadapi hujan yang disertai angin.

Adapun untuk komoditas kedelai, Alan menyebut produktivitasnya dapat mencapai sekitar 3 ton per hektare. PIAT UGM terus mengupayakan peningkatan hasil produksi kedelai agar sesuai dengan target Kementan.(Hadid Pangestu)