Barak Pengungsian Koripan Sleman Jadi Sasaran Vandalisme

Sleman18 Dilihat
banner 468x60

SLEMAN, JANASVARA.COM – Barak pengungsian Koripan di Kalurahan Sindumartani, Kapanewon Ngemplak, Sleman, menjadi sasaran aksi vandalisme. Sejumlah bagian bangunan dicoret, sementara tulisan yang terpasang di bagian depan barak juga dilepas oleh orang tidak dikenal.

Waktu terjadinya aksi tersebut belum diketahui. Kondisi barak yang berada cukup jauh dari permukiman serta minim penerangan membuat aktivitas di sekitar lokasi sulit terpantau.

banner 336x280

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro mengatakan, Barak Koripan berada di area tegalan yang sepi dan gelap. Kondisi itu membuat bangunan rentan disalahgunakan maupun dirusak.

“Koripan jauh di tegalan, situasinya sepi gelap. Risikonya divandalisme, tulisan diteteli (dicongkel), kadang-kadang dipakai untuk yang tidak-tidak (mesum),” kata Bambang saat dikonfirmasi, Kamis (13/8/2026).

Ia mengatakan, sejumlah warga di sekitar lokasi pernah melihat aktivitas yang dinilai tidak semestinya di kawasan barak. Namun, BPBD kesulitan memastikan maupun menindak kejadian tersebut karena tidak terdapat CCTV.

Selain itu, tidak ada petugas yang berjaga sepanjang waktu di lokasi. Menurut Bambang, keterbatasan anggaran menjadi salah satu alasan pihaknya belum dapat menempatkan penjaga khusus.

“Karena memang nggak ada anggaran, kecuali di situ ada tukang kebun yang nunggu 24 jam. Kita juga nggak bisa buat omah-omahan, sehingga kalau diorek-orek (dirusak) ya nggak bisa mantau,” ujarnya.

Bambang menjelaskan, barak tersebut saat ini tidak digunakan dan tidak menyimpan barang berharga. Meski demikian, fasilitas kamar mandi yang berada di dalam maupun luar bangunan masih dapat difungsikan.

Masyarakat juga diperbolehkan menggunakan barak untuk kegiatan selama tidak sedang dimanfaatkan dalam kondisi kebencanaan. Penggunaan tersebut tidak dikenai biaya, meski masyarakat diharapkan membantu biaya listrik apabila fasilitas tersebut digunakan.

BPBD Sleman berencana melakukan pengecatan ulang pada bagian-bagian yang menjadi sasaran vandalisme. Namun, rencana tersebut terbentur keterbatasan anggaran pemeliharaan.

Bambang menyebut BPBD harus membagi anggaran untuk merawat 12 barak pengungsian yang berada di kawasan pengungsian Merapi. Kondisi tersebut membuat perbaikan kerusakan di setiap barak tidak dapat dilakukan secara maksimal.

“Setahun barak kita anggaran Rp2 juta, kalau dandani (memperbaiki) nggak bisa, angel (sulit). Rp4 juta kita perbaiki plafon dan pintu nggak cukup semua barak. Kita juga butuh untuk membersihkan saluran air tapi anggaran ra ono (tidak ada),” pungkasnya. (Hadid Pangestu)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *