BANTUL,JANASVARA.COM– Berawal dari bincang-bincang di pos kampling, Kapolsek Bambanglipuro, Bantul AKP I Nenggah Jeffry Prana Widnyana mengagas program pemberdayaan masyarakat melalui peternakan ayam petelur Lohmann Brown.
Diikuti pertama kali oleh lima warga, usaha pemberdayaan ayam petelur ini sekarang berhasil mengandeng 20 warga lainnya dengan jumlah ayam yang diternakan mencapai 400 ekor dan produksi harian mencapai 320 butir telur atau 80 persen.
Saat ini kelompok peternak yang menamakan diri ‘Endok Mulyo’ ini melibatkan warga dua RT di Dusun Gedongan, Desa Sumbermulyo dan sudah terdaftar di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul.
“Program ini sebagai wujud dan komitmen kepolisian dalam program pembinaan warga memanfaatkan pekarangan untuk budidaya ayam petelur. Skemanya dirancang untuk menciptakan kemandirian pangan keluarga sekaligus putaran ekonomi lokal,” kata Kapolsek Jeffry saat mendampingi wartawan berkunjung ke kandang peternak binaan, Jumat (6/11/2026) siang.
Digagas sejak Februari 2026, program ini awalnya digagas sebagai pemberdayaan warga mengubah pekarangan yang kurang produktif menjadi “lumbung protein” keluarga. Dalam tujuan besarnya, program ini bertujuan meningkatkan ketahanan pangan mandiri dengan menyediakan sumber protein hewani (telur) yang terjangkau, segar, dan mudah diakses langsung dari pekarangan rumah.
Program ini juga untuk kemandirian ekonomi dengan memanfaatkan sebagian hasil produksi untuk dijual sehingga menghasilkan kas harian dan mingguan yang diputar kembali untuk membeli ayam, pakan, dan kebutuhan rumah tangga.
Sebagai pemicu, saat pelaksanaan program Kapolsek Jeffry turut menyumbang 10 ekor ayam yang dalam pembeliannya digabungkan dengan pesanan lima warga lainnya secara iuran. Sedangkan untuk kandangan bertingkatnya, warga secara mandiri membuat dari bahan bambu.
“Kita semuanya tidak tahu bagaimana cara beternak. Namun karena semangat yang kuat, dari Youtube lah kita belajar secara otodidak,” jelasnya.
Dengan tingkat produksi mencapai ribuan telur per minggu, kelompok peternak Endog Mulyo kemudian menyusun skema penjualan secara teroganisir. Peternak menyetor, kemudian dikemas, lalu dijual dengan harga Rp20 ribu per kemasan isi 20 telur.
Jeffry mengaku saat ini dirinya membantu pemasaran dengan menyalurkan produk telur ini ke berbagai kenalan dan relasi kerjanya. Bahkan untuk pesanan wilayah Bantul, dirinya siap mengantar telur langsung ke konsumen demi membantu kelancaran usaha.
“Berjalannya waktu kita menemukan ada beberapa permasalahan. Yang utama memang di pemasaran, bagaimana bisa berkelanjutan. Ini memang kita butuh butuh beberapa pelatihan-pelatihan pemasaran atau pelatihan untuk ayam telur di sini,” paparnya.
Terkait dengan nama kelompok Endok Mulyo”. Jeffry menjelaskan endok berarti telur dalam bahasa Jawa dan mulyo berarti mulia dengan arti menjadi program yang mulia. Kata Mulyo ini sekaligus diambil dari tiga kelurahan yang ada di wilayah Bambanglipuro yang memiliki unsur mulia Sumbermulyo, Mulyodadi, dan Sidomulyo.
Meski masih dalam tahap pengembangan, Jeffry membuka kesempatan bagi warga di dusun maupun kalurahan lainnya untuk ikut bergabung dalam peternakan ini. Baginya peternakan ayam petelur Lohmann Brown ideal dikembangkan di pekarangan rumah dengan populasi awal 3 – 5 ekor ayam petelur per kepala keluarga (KK). Jumlah ini relatif mudah dikelola oleh anggota keluarga tanpa mengganggu pekerjaan utama.
“Namun ada juga kandang kelompok untuk warga yang minim pekarangan. Mereka sepakat membangun kadang bersama dan dikelola bersama-sama,” jelasnya.
Ketua Kelompok Endog Mulyo, Sarjana mengatakan, saat ini tingkat produksi untuk satu ekor ayam petelur unggul (Lohmann) mampu menghasilkan sekitar 1 butir telur per hari.
“Produksi harian kurang lebih 3 – 4 butir telur per hari dengan alokasi konsumsi keluarga 1 – 2 butir per hari (untuk pemenuhan gizi anak/keluarga). Sedangkan alokasi penjualan sisa 1 – 2 butir per hari dan hasil penjualan telur untuk membeli pakan pabrikan secara kolektif di tingkat kelompok warga,” paparnya.
Bahkan ada peternak yang menabung dari hasil penjualan telur untuk pembelian bibit ayam baru. Sejak pertama kali dijalankan, peternak sepakat memilih bibit ayam petelur berusia 20 pekan. Hal ini disebabkan, usia tersebut ayam sudah siap bertelur dan sudah mendapatkan berbagai vaksin.
Sarjana mewakili anggota kelompoknya mengaku, program yang diinisiasi Kapolsek Jeffry ini sangat membantu kebutuhan harian akan telur dan menambah penghasilan.
Dirinya juga sepakat dengan Kapolsek, bahwa saat ini yang dibutuhkan adalah pelatihan mengenai pemasaran. Jika melihat prospek besarnya, pemasaran ini sangat dibutuhkan kedepannya, terlebih jika nanti Kapolsek Jeffry tidak lagi bertugas di sana.(Wisnu Wardhana)









