Puluhan Lansia Dapat Pendampingan Kelola Emosi, Ada yang Alami Stres dan Depresi

Sleman18 Dilihat
banner 468x60

SLEMAN, JANASVARA.COM – Puluhan lanjut usia (lansia) di Tanjungsari, Ngaglik, Sleman, mengikuti kegiatan pendampingan untuk meningkatkan kemampuan mengenali dan mengelola emosi, Minggu (4/10/2026).

Program tersebut digelar melalui kolaborasi Layanan Aktivitas Rekreasi Lanjut Usia (LARAS), Bina Keluarga Lansia (BKL) Ngaglik, dan Tim Pengabdian PPM Universitas Islam Indonesia (UII).

banner 336x280

Sebelum mengikuti kegiatan pendampingan, para lansia telah menjalani screening kesehatan yang mencakup kondisi fisik dan mental. Hasil screening menunjukkan terdapat sejumlah peserta yang membutuhkan perhatian terhadap kondisi psikologisnya.

Direktur LARAS, R.R. Prima Walani, mengatakan pendampingan tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjaga kesehatan psikologis lansia sekaligus membantu mereka menghadapi berbagai persoalan emosional.

“Sehingga ada pelatihan menjaga ketenangan diri. Oleh Tim Pengabdian UII kemudian dikelompokkan dalam kelompok kecil, kemudian dibina dan dilatih mahasiswa bagaimana mengendalikan dan mengelola emosi supaya ke depannya mereka lebih bahagia,” kata Prima.

Menurut Prima, program tersebut telah diikuti ratusan lansia yang terdaftar. Ia berharap kegiatan yang semakin aktif di wilayah Tanjungsari dapat membantu menekan berbagai persoalan kesehatan jiwa yang dialami kelompok lanjut usia.

Ia menilai lansia perlu tetap aktif menjalankan berbagai kegiatan agar kondisi fisik maupun psikologisnya tetap terjaga.

“Lansia yang aktif adalah kunci utama. Pisau kalau hanya diletakkan akan berkarat, bila saatnya diasah, diasah akan bisa digunakan. Sama dengan sepeda diletakkan mangkrak, kalau digunakan akan terjaga,” ujarnya.

Atas dasar itu, pendampingan terhadap lansia dilakukan dengan melibatkan sejumlah pihak agar dapat berlangsung secara berkelanjutan dan lebih intensif.

Dosen Psikologi UII, Nita Tri Mulyaningsih, mengatakan kegiatan lanjutan tersebut difokuskan pada stabilisasi emosi. Materi yang diberikan disesuaikan dengan hasil screening yang telah dilakukan sebelumnya.

“Teknisnya, berdasarkan screening pertama, ada sejumlah lansia yang mengalami demensia, kemudian ada stres dan depresi,” kata Nita.

Untuk menindaklanjuti kondisi tersebut, para lansia diberikan sejumlah latihan untuk mengenali emosi sekaligus mengembangkan kemampuan mengendalikan kondisi emosional.

“Tindak lanjut pertama terkait demensia dan stres dengan mereka mengenali emosi, melatih mereka untuk memiliki keterampilan untuk menstabilisasi emosi, relaksasi otot, dzikir kemudian terapi senyum, sama dzikir melakukan aktivitas yang menyenangkan bagi lansia,” jelasnya.

Peserta kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok agar proses pendampingan dapat dilakukan secara lebih mudah. Mereka juga diminta mengisi lembar komitmen sebagai salah satu cara memantau perkembangan setelah mengikuti kegiatan.

Perkembangan tersebut selanjutnya akan dievaluasi dan menjadi bahan untuk menentukan pendampingan pada pertemuan berikutnya.

Sementara itu, Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Ngaglik, Rimurhani, mengatakan pemerintah kapanewon mendukung kegiatan pendampingan lansia meski tidak dapat memberikan bantuan anggaran secara langsung.

“Kalau kami dari kapanewon tidak bisa secara langsung memberikan dukungan anggaran, tapi kami koordinasi bekerja sama dengan BKL yang ada. Biasanya pendampingannya lewat PLKB di Kapanewon Ngaglik,” ujarnya.

Menurut Rimurhani, koordinasi juga dilakukan dengan sejumlah pihak lain untuk mendukung kebutuhan lansia, termasuk dalam bidang kesehatan. Salah satu bentuknya ialah kerja sama dengan rumah sakit untuk memberikan layanan kesehatan gratis.

“Kemarin kita juga dikerjasamakan dengan RS UAD, untuk dukungan kesehatan gratis untuk lansia,” katanya.

Ia mengapresiasi program yang dilakukan UII karena menurutnya perhatian terhadap kesehatan mental lansia sangat penting. Kondisi psikologis lansia, kata dia, terkadang tidak terlihat dari kondisi mereka sehari-hari.

“Di sini menilai kalau dari UII kami sangat terima kasih, karena bagaimanapun kesehatan mental lansia sangat krusial. Lansia yang kelihatan meneng wae, tapi ternyata di dalam memang perlu terkait kesehatan mental, tidak hanya fisik. Alhamdulillah UII sudah mengakomodir,” ujarnya.

Rimurhani menyebut jumlah lansia di Sleman cukup besar dan mayoritas di antaranya merupakan perempuan. Hal tersebut salah satunya dipengaruhi tingginya angka harapan hidup masyarakat di wilayah tersebut.

Di Tanjungsari sendiri, terdapat lebih dari 100 lansia yang terdata. Namun, jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut sekitar 70 orang.

Pendampingan juga tidak hanya dilakukan di Tanjungsari. Rimurhani menyebut wilayah Mino juga memiliki BKL yang cukup aktif dalam menjalankan kegiatan bagi lansia.

“Posyandu lansia lebih aktif dari posyandu anak,” katanya.

Ia menambahkan, kondisi tempat tinggal lansia juga beragam. Sebagian tinggal bersama anak atau keluarga, sementara lainnya menjalani kehidupan seorang diri.

“Kalau yang sendiri banyak juga, yang sama anak ada juga,” ujarnya.

Apabila terdapat lansia yang menghadapi persoalan sosial, seperti sakit tetapi tidak memiliki keluarga yang dapat merawat, pihak kapanewon akan berkoordinasi untuk mendapatkan penanganan.

“Kalau ada masalah sosial misalnya ada yang sakit tapi tidak ada anak, ada TKSK, disalurkan ke rumah singgah juga ada, rumah penampungan juga ada,” jelasnya.

Rimurhani mengatakan pendampingan sehari-hari terhadap lansia tetap mengandalkan jejaring yang ada di tingkat kapanewon. Sementara keterlibatan UII berlangsung sesuai dengan program pengabdian masyarakat yang dijalankan.

“Kalau UII sudah selesai kerja, dengan yang lain,” pungkasnya. (Hadid Pangestu)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *